hut

Kemarau, Berimbas Sumber Pakan Alami Lebah Madu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim kemarau di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) berimbas pada lingkungan sumber alami pakan lebah madu.

Syafii, warga Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang menyebut, saat kemarau sejumlah tanaman meranggas dan tidak menghasilkan nektar sumber pakan alami lebah. Sejumlah tanaman yang meranggas diantaranya akasia, ketapang, mahoni dan pohon penghasil bunga lainnya.

Sebagai salah satu sumber pakan alami yang masih bertahan saat kemarau diantaranya nangka dan berbagai tanaman bunga.

Sebagai cara mempertahankan agar lebah madu jenis apis cerana tetap berproduksi, jenis bunga ditanam di sekitar halaman rumah. Beberapa jenis bunga yang ditanam diantaranya bunga matahari serta sejumlah bunga penghasil nektar.

Syafii bahkan menyebut dengan sistem ternak lebah memakai stove, dari sekitar 50 stove yang dimiliki sebagian lebah pergi.

Perginya lebah madu dari stove disebabkan kurangnya pakan alami terutama jenis lebah madu kuning. Lebah madu yang masih bertahan diantaranya jenis lebah madu hitam yang tetap bertahan pada stove.

“Saat sumber pakan alami berkurang sebagian kawanan lebah pergi, namun ada yang mau kembali saat musim kemarau berakhir, umumnya saya melakukan penggembalaan ke daerah lain untuk mendapatkan sumber pakan alami,” ungkap Syafii saat ditemui Cendana News, Rabu (10/7/2019).

Sejumlah kawanan lebah madu disebutnya kerap dibawa ke kawasan hutan mangrove pesisir timur Lampung. Pohon mangrove di sekitar pantai pesisir Desa Bandar Agung menurutnya menjadi sumber pakan alami lebah saat berbunga.

Pada lingkungan pesisir pantai dan tambak sejumlah tanaman kangkung kangkungan, melati pantai ikut menjadi sumber pakan lebah.

Pada kondisi normal ia menyebut satu stove lebah madu bisa menghasilkan sekitar 500 mililiter madu. Namun saat kemarau, madu yang dihasilkan hanya sekitar 250 mililiter.

Penurunan hasil madu diakuinya imbas sumber pakan alami yang berkurang. Saat kemarau sejumlah rumput penghasil bunga di kawasan tambak udang mengering mengakibatkan nektar berkurang.

“Sebagai solusi untuk sumber pakan tambahan, saya kerap menyediakan cairan gula merah, gula putih dan tetes tebu di dekat stove agar lebah mendapat asupan makanan,” papar Syafii.

Melalui sosialisasi petugas penyuluh kehutanan, Syafii menyebut pemberdayaan peternak lebah telah dilakukan.

Ia bahkan pernah mengikuti kursus perlebahan dengan tujuan melakukan gerakan penghijauan. Melalui kegiatan Gerakan Lampung Menghijau (Gerlam) upaya penanaman pohon dilakukan untuk sumber pakan alami lebah madu.

Selain sumber pakan alami, berbagai jenis tanaman menjadi sumber konservasi lingkungan.

Meski sumber pakan alami berkurang, Syafii menyebut harga madu tidak mengalami peningkatan. Harga per botol madu ukuran 250 Mililiter diakuinya dijual dengan harga Rp100.000.

Kemarau yang melanda wilayah tersebut disebutnya menjadi musim paceklik produksi madu. Permintaan madu yang masih stabil disebutnya kerap tidak bisa dipenuhi karena kurangnya produksi.

Mulyono, salah satu warga Desa Pematang Pasar Kecamatan Ketapang Lampung Selatan peternak lebah memanfaatkan stove – Foto: Henk Widi

Peternak lebah madu lain bernama Mulyono, warga Pematang Pasir, mengaku produksi lebah madu berkurang akibat kemarau.

Sejumlah tanaman yang menjadi sumber pakan alami diakuinya mulai berkurang. Sebagai sumber pakan alami ia menyebut menanam jenis tanaman penghasil bunga diantaranya akasia, mangga, kelengkeng.

Kelengkeng, mangga, akasia sebagai tanaman produktif sekaligus sebagai tanaman penghijauan. Tanaman penghijauan disebutnya bisa menjadi sumber pakan alami untuk lebah madu.

Proses penyiraman diakuinya dilakukan selama kemarau untuk menghindari keringnya tanaman pakan alami bagi lebah madu.

Berkurangnya pakan alami disebutnya membuat ia menanam berbagai jenis tanaman bunga untuk ketersediaan pakan alami bagi lebah madu.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!