hut

Kemarau, Petani Lamsel Raup Keuntungan dari Sayuran Organik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Manajemen pertanian yang baik diterapkan oleh warga Lampung Selatan (Lamsel) memanfaatkan lahan saat kemarau.

Supri, salah satu petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan memilih memanfaatkan lahan sawah untuk budidaya sayuran organik. Kemarau membuat lahan sawah yang biasanya ditanami padi dialihfungsikan untuk menanam sayuran.

Pada masa tanam penghujan atau rendengan, Supri menanam padi jenis Inpari. Namun akibat menurunnya pasokan air pada lahan sawah miliknya, ia memilih tetap menggarap lahan.

Proses pengolahan lahan diakuinya dilakukan secara bertahap. Usai jerami limbah batang padi ditimbun dan menjadi pupuk kompos, guludan tanah dibuat untuk media penyemaian.

Media guludan untuk penyemaian dengan kompos masih diberi taburan pupuk kandang. Pupuk kandang diakuinya berasal dari kotoran ternak sapi dan kambing.

Butuh waktu satu pekan agar media tanam siap ditanami dengan proses penyiraman. Sayuran yang dikembangkan oleh Supri dibantu Amin sang istri meliputi kemangi, sawi, bayam, bawang prei, kangkung dan selada.

Supri dan sang istri Amin, melakukan pemanenan bayam cabut pada lahan sawah yang kering – Foto: Henk Widi

“Pola tanam yang saya terapkan dengan sistem terjadwal menyesuaikan usia sayuran yang bisa dipanen mingguan, setiap bulan sehingga pasokan ke warung selalu terpenuhi,” ungkap Supri, saat ditemui Cendana News, Selasa (9/7/2019).

Pola tanam berkelanjutan diakuinya menerapkan sistem pertanian tanpa sampah (zero waste system). Sebab semua jenis limbah peternakan bisa dipakai untuk pupuk, selanjutnya pupuk bisa diaplikasikan untuk menanam sayuran.

Saat panen sayuran, beberapa jenis sayuran yang sudah disortir bisa digunakan sebagai pakan. Ia juga memastikan tidak memakai bahan kimia untuk pemupukan.

Penerapan penanaman organik diakui Supri sekaligus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada sayur organik. Kesadaran masyarakat akan sayuran sehat tanpa residu kimia diakui oleh Supri menjadi peluang usaha baginya.

Selain dijual kepada pedagang keliling, sayuran organik juga dijual oleh sang ibu yang menjadi pedagang sayuran di pasar tradisional.

“Jenis sayuran seperti kemangi, selada kerap dibeli oleh usaha kuliner pecel lele sebagai lalapan, sebagian dijual ke warung,” papar Supri.

Supri menyebut pemilihan waktu tepat untuk bertani sayuran menjadi kunci keberhasilan baginya. Sebab ia tidak memilih menanam padi akibat keterbatasan pasokan air.

Keputusan menanam sayuran sebab kebutuhan air yang masih bisa dipenuhi dari saluran sungai kecil di dekat lahan penanaman sayuran miliknya. Penyiraman dengan alat khusus membuat sayuran tetap dalam kondisi segar.

Pilihan jenis sayuran yang ditanam menurut Supri merupakan jenis tanaman usia pendek. Jenis sawi, bayam cabut, kangkung sudah bisa dipanen dua pekan setelah semai.

Khusus untuk sawi, bibit harus disemai pada media tersendiri selanjutnya dipindah ke guludan untuk ditanam. Sementara jenis kangkung, bayam langsung bisa ditebar pada media tanam.

“Butuh ketelatenan untuk menjadi petani sayuran karena perawatan harus maksimal untuk mendapatkan hasil yang baik,” ungkap Supri.

Proses pemanenan diakui Supri menyesuaikan hari pasaran untuk mempermudah penjualan. Hari pasar tradisional yang rutin ada diantaranya Selasa, Rabu, Jumat dan Minggu.

Saat akan dijual pagi hari berikutnya sayuran harus dipetik pada sore hari. Sebagian masyarakat yang menyukai sayuran organik diakuinya memilih datang ke kebun langsung dan memilih membeli sesaat setelah dipetik.

Melalui usaha pertanian sayuran, Supri mengaku bisa mendapatkan hasil ratusan ribu per pekan. Sebab sekali panen ia bisa mendapatkan puluhan ikat sawi, bayam cabut, kangkung, selada, kemangi dan bawang daun.

Per ikat bayam cabut, kangkung, sawi dijual seharga Rp2.000, Rp3.000 hingga Rp5.000. Sayuran tersebut banyak diminati karena dijual dalam kondisi segar dan ditanam dengan sistem organik.

“Meski hasilnya tidak sebanding dengan waktu menanam padi namun lahan tidak terbengkalai, masih menghasilkan,” cetus Supri.

Usaha menanam sayuran diakuinya sekaligus menjadi manajemen pemanfaatan lahan tanpa terpengaruh cuaca.

Meski kemarau melanda, ia masih tetap optimis bisa menghasilkan uang dari menanam sayuran. Seluruh lahan yang ada diakuinya akan dimanfaatkan untuk menanam sayuran.

Pada lahan yang masih kosong ia berencana menanam cabai rawit, terong, tomat dan sejumlah sayuran lain.

Lihat juga...