hut

Kemarau, Warga di Lampung Selatan Mulai Kesulitan Air Bersih

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Warga di Kecamatan Ketapang, Penengahan, Kalianda dan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kemarau yang terjadi, membuat warga harus bekerja ekstra untuk mendapatkan air bersih.

Susanti, salah satu warga Dusun Pematang Macan, Desa Kelawi, menyebut, warga di daerahnya saat ini sangat tergantung dengan keberadaan sumur komunal. Menyusutnya debit air sumur milik warga telah terjadi sejak Juni silam.

Air sumur komunal hanya dapat dimanfaatkan untuk kebtuhan memasak dan mencuci. Khusus untuk kebutuhan air minum membeli air seharga Rp5.000 untuk isi 19 liter. “Debit air menyusut, air bersih sulit diperoleh, mengandalkan sumur komunal, ke belik atau membeli dengan tangki,” tandas Susanti kepada Cendana News, Rabu (17/7/2019).

Warga menyalurkan air bersih secara gratis untuk kebutuhan masjid Nurul Yaqin di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Salah satu kebutuhan air bersih adalah, untuk air wudhu, seperti yang disampaikan Herman, salah satu penjual air bersih. Sebagai penjual air bersih, saat kemarau Dia sering menyuplai air ke rumah ibadah. Khusus untuk kebuthan ibadah digratiskan, namun untuk kebutuhan warga satu tanki air kapasitas 1200 liter, dijual Rp75.000. “Perubahan lingkungan berimbas sulitnya air bersih mulai dirasakan masyarakat saat kemarau dua bulan terakhir,”papar Herman.

Kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan, mendorong warga memanfaatkan embung yang masih bisa menyimpan air, seperti embung di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang. Meski masih bisa digunakan, debit air terus menyusut sementara kemarau diprediksi masih akan berlangsung hingga Agustus.

Lihat juga...