hut

Kesenian Tradisional Tanamkan Pendidikan Karakter Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pendidikan karakter bagi para siswa terus dilakukan sejak dini melalui sejumlah cara. Salah satu cara dilakukan SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, melalui kesenian tradisional.

Topan Hariyono, kepala sekolah SDN 1 Pasuruan menyebut, sejumlah kesenian tradisional menjadi kegiatan ekstrakurikuler. Kesenian yang diajarkan untuk siswa berasal dari sejumlah daerah di Indonesia.

Sejumlah kesenian dari sejumlah wilayah Indonesia menjadi cara mendidik nasionalisme para siswa. Sejumlah siswa dari latar belakang orangtua  berasal dari wilayah Sumatera, Jawa, Bali dan wilayah Indonesia lainnya selain Lampung.

Kesenian yang diajarkan kepada para siswa diantaranya tari sembah, tari Sigekh Pengunten dari Lampung, kuda lumping reog dari Jawa Timur, tari gambyong dari Jawa Tengah dan sejumlah tarian lain.

Topan Haryono, Kepala Sekolah SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Pelajaran wajib di sekolah sesuai kurikulum untuk pendidikan akademik menurutnya semakin diperkuat dengan pendidikan karakter. Nilai-nilai positif melalui kegiatan pendidikan karakter menurutnya mendidik siswa agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Sebagai bentuk upaya menanamkan nilai positif karakter yang baik, Topan Haryono menyebut sejumlah ekstrakurikuler diajarkan.

“Pendidikan berbasis akademik terus kami lakukan namun tetap diimbangi dengan pendidikan karakter diantaranya kesenian tradisional agar kecintaan pada budaya masih dimiliki dan bisa menciptakan prestasi nonakademik,” ungkap Topan Haryono saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (20/7/2019).

Memasuki tahun ajaran baru 2019/2020 Topan Haryono menyebut fasilitas akan ditingkatkan melalui pembentukan sanggar. Sanggar kesenian menurutnya menjadi cara mendidik siswa di luar jam pelajaran sekolah.

Meski demikian nilai positif tersebut menjadi pendukung untuk kegiatan pendidikan akademik yang diajarkan. Kegiatan sanggar seni sekaligus menjadi cara melestarikan sejumlah kesenian dari berbagai wilayah Indonesia yang cukup kaya.

Kesenian tradisional dalam bentuk tarian menurut Topan Hariyono sekaligus bisa menjadi bagian dari sejumlah acara. Sebab pada sejumlah acara resmi, kesenian tradisional tari sembah, sigekh pengunten disajikan pada saat penyambutan tamu.

Selain itu sejumlah tarian tradisional jenis tari gambyong, tari guyup rukun, kuda lumping, reog Ponorogo menjadi sarana mencintai budaya leluhur.

“Bagi anak-anak, sejumlah kesenian tradisional mengajarkan agar anak-anak tidak lupa akan tradisi warisan leluhur,” ungkap Topan Hariyono.

Dukungan dari sejumlah orangtua, komite sekolah disebutnya terus dilakukan agar siswa mengisi kegiatan dengan hal positif. Para siswa SDN 1 Pasuruan diakuinya juga diajarkan permainan musik tradisional gamelan.

Gamelan diakuinya sebagai salah satu musik tradisional yang memiliki nilai positif bagi perkembangan kognitif anak anak.

Aktualisasi sejumlah kesenian tradisional disebut Topan Haryono dilakukan saat kegiatan purnawiyata. Kegiatan pelepasan siswa yang sudah lulus disebutnya menjadi kesempatan untuk memperlihatkan atraksi kesenian yang sudah dilatih.

Selain penampilan kesenian tradisional, para siswa juga melakukan cara unik sebagai bentuk bakti kepada para guru.

Bentuk bakti yang dilakukan para siswa yang akan meninggalkan sekolah untuk jenjang lebih tinggi dilakukan dengan pembasuhan kaki. Kegiatan tersebut dikemas berbarengan dengan salah satu guru yang memasuki masa purnabakti.

Bentuk ungkapan siswa membasuh kaki para guru menjadi simbol tidak terbalasnya jasa para guru dalam mendidik siswa selama bertahun-tahun. Selain basuh kaki, para siswa juga melakukan tradisi sungkeman.

“Nilai-nilai luhur dalam pendidikan sejak dini selalu kami ajarkan agar siswa mendapat bekal yang positif,” ungkap Topan Haryono.

Saudi, kepala Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) tingkat SD kecamatan Penengahan menyebut mengapresiasi langkah pendidikan karakter.

Sebab langkah yang dilakukan oleh SDN 1 Pasuruan dengan melestarikan budaya leluhur bisa mendidik para siswa untuk memiliki karakter yang positif. Langkah sekolah mendidik siswa dengan pendidikan nonakademik kesenian sangat tepat.

“Para siswa yang dididik akan memiliki rasa nasionalisme dan mengenal sejumlah kesenian tradisional dari berbagai suku di Indonesia,”papar Saudi.

Rukun Haryoto, tokoh masyarakat Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Sementara itu Rukun Haryoto selaku tokoh masyarakat menyebut kegiatan purnawiyata siswa, purnabakti guru diisi dengan nilai luhur.

Penampilan sejumlah kesenian tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia menjadi nilai positif sekolah melestarikan budaya bangsa.

Ia juga berharap agar pelestarian budaya terus diajarkan selain mendidik siswa dengan pendidikan akademik.

Pengadaan sanggar kesenian di sekolah sekaligus cara mengajak siswa mencintai kebudayaan nasional.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com