hut

Korban Gigitan Anjing Rabies di Sikka Meninggal Karena tak Disuntik VAR  

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kematian akibat kasus penyakit rabies terjadi karena dua hal. Pertama, akibat Hewan Penular Rabies seperti anjing, kera, kucing dan kelelawar. Kedua, manusia selaku korban gigitan anjing tidak mendapatkan suntikan Vaksin Anti Rabies.

“Dua orang korban gigitan anjing tertular rabies meninggal dunia  selama bulan Januari sampai Juni 2019, rupanya karena tidak mendapatkan suntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) di Puskesmas maupun rumah sakit,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH., dalam rapat koordinasi rabies, Selasa (16/7/2019) sore,

Dalam rapat yang dihadiri camat dari 11 wilayah dari 21 kecamatan di kabupaten Sikka, Maria menjelaskan, kedua korban berinisial RL (29) asal Desa Hoder, dan balita YA (3) asal Desa Egon Buluk. Kedua korban asal Kecamatan Waiegete ini meninggal setelah beberapa hari digigit anjing pengidap penyakit rabies.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH. -Foto: Ebed de Rosary

“Rabies  bisa mengakibatkan kematian, sehingga korban gigitan harus segera mendapatkan suntikan VAR. Kami selalu mengimbau, agar masyarakat yang terkena gigitan segera dibawa berobat ke Puskesmas maupun rumah sakit,” jelasnya.

Maria memaparkan, sejak 2011 hingga 2018, kasus gigitan anjing terbanyak pada 2011 sejumlah 2.845, kemudian 2012 sebanyak 2.278 gigitan. Kasus gigitan terbanyak berikutnya pada 2018 sebanyak 1.614 kasus.

“Kasus gigitan terendah pada 2017 sebanyak 945 kasus. Sementara sejak Januari hingga Juni 2019 sudah terjadi 934 kasus, dan banyak kasus juga yang tidak dilaporkan, sehingga tidak diketahui,” ungkapnya.

Sementara untuk pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk korban gigitan terbanyak pada 2012 sebanyak 2.036, pada 2018 sejumlah 1.325 suntikan. Yang terkecil pemberian VAR pada 2011 sebanyak 271 suntikan.

“Untuk bulan Januari hingga Juni 2019 sudah dilakukan pemberian VAR sebanyak 528 suntikan. Jumlah korban meninggal terbanyak pada 2011 sebanyak 5 orang, sementaa tahun 2012, 2013, 2018 dan hingga Juni 2019, masing-masing 2 orang,” bebernya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehtaan kabupaten Sikka, Avelinus S. Nong Erwin, menjelaskan, setelah terkena gigitan dan luka dicuci di air mengalir selama 15 menit menggunakan sabun, segera diberikan antiseptik.

“Antiseptik yang digunakan bisa dengan memberikan alkohol. Setelah itu baru disuntik Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR). Pemberian suntikan ini sebanyak 4 kali,” ungkapnya.

Hari pertama, terang Erwin, dilakukan suntikan 2 dosis pada lengan kanan atau kiri, hari ke tujuh dan hari ke-21 masing-masing 1 dosis. Sementara SAR diberikan saat hari pertama bersamaan dengan pemberian VAR di sekitar luka bekas gigitan.

“Korban meninggal dunia karena tidak mendapatkan suntikan VAR dan SAR. Tetapi bila terlambat mendapatkan suntikan dan virus sudah menyerang saraf, maka pemberian vaksin tidak akan memberikan manfaat,” terangnya.

Banyak korban gigitan biasanya mengeluh karena biaya VAR sangat mahal. Erwin katakan, sekali suntikan butuh biaya sekitar Rp400 ribu lebih dan harus 4 kali suntik, sehingga membutuhkan biaya lebih dari Rp1,6 juta lebih.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!