hut

KSU Derami Padang Dorong Posdaya Tingkatkan Keterampilan

Editor: Koko Triarko

PADANG – Dalam upaya meningkatkan perekonomian warga miskin, Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami) Padang, Sumatra Barat, tak hanya menyalurkan pinjaman lunak Tabur Puja. Namun, juga turut mendorong Pos Pemberdayaan Kelurga (Posdaya) unttuk meningkatkan keterampilan. Salah satunya keterampilan membuat kerajinan dari bahan bekas.

Posdaya Bahari di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Padang, selama ini aktif memberikan pelatihan keterampilan membuat berbagai macam kerajinan, seperti tas, dompet dan sebagainya dengan memanfaatkan limbah sampah rumah tangga, seperti bekas bungkus sabun, minuman sachet dan lainnya. Bahkan, dari keahliannya itu, Ketua Posdaya Bahari, Dewi Anggriani, sering diundang ke berbagai tempat untuk memberikan pelatihan tersebut.

Belum lama ini Dewi pun  mengaku diminta oleh dosen dari Universitas Negeri Padang, untuk melatih para lansia (lanjut usia) di Posyandu Lansia, Tigo Ruang, Kelurahan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Padang, membuat sejumlah kerajinan dengan menggunakan sampah rumah tangga.

Dewi Anggriani (kiri berdiri baju pink), foto bersama dengan peserta pelatihan kerajinan dari barang bekas di daerah Tigo Ruang, Lubuk Lintah, Kuranji, Padang/ Foto: M. Noli Hendra

“Sebelumnya di Posdaya pun anggota dari Tabur Puja telah saya bina. Setelah mendapatkan pinjaman modal usaha, para ibu rumah tangga bisa membeli sejumlah kebutuhan, untuk membuat kerajinan itu. Sejak itu, hingga saat ini saya sering diminta menjadi tutor di berbagai daerah di Kota Padang,” katanya, Senin (22/7/2019).

Ia menyebutkan, tutor yang dilakukan kepada 20 orang lebih para lansia di Tigo Ruang Padang, berjalan lancar. Sebab, teknik untuk merajut dari barang bekas untuk membuat sejumlah produk, seperti tas, dompet, dan lainnya tidak terlalu rumit. Juga tidak terlalu menguras tenaga.

Menurutnya, dengan kondisi yang sudah lansia, sembari mengisi waktu di rumah, melakukan kerajinan adalah cara yang tepat, karena dapat menghasilkan uang.

Kini, harga produk kerajinan dari sampah, seperti dompet, mampu dijual hingga Rp200 lebih per unit. Untuk itu, Dewi merasa sangat senang bisa berbagi pengetahunnya kepada banyak orang, termasuk kepada para lansia.

“Kalau untuk tutor para lansia, hanya satu hari saja, karena saya diminta oleh dosen UNP hanya sehari. Tapi melihat selama pelatihan dilakukan, para lansia cepat menangkap teknik yang diberikan. Meskipun sehari, dinilai cukup untuk bisa bekerja sendiri, tanpa ada bimbingan lagi. Tapi, saya sempat meninggalkan kontak, kalau ada yang ragu, saya bisa memberikan penjelasannya via telepon,” ujarnya.

Selain telah menjadi tutor kerajinan ke beberapa tempat di Padang, Dewi berencana untuk merantau ke daerah tetangga, yakni ke Kabupaten Pesisir Selatan. Tujuannyauntuk melatih sejumlah ibu-ibu rumah tangga agar bisa menghasilkan produk kerajinan dari sampah rumah tersebut.

Hal ini dilakukan, karena Dewi menginginkan para ibu rumah tangga tidak hanya melihat sampah menjadi benda yang harus dibuang, tapi bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi.

Dewi menjelaskan, berbagai jenis sampah rumah tangga yang dapat diolah itu antara lain bekas kemasan sabun deterjen, kemasan sachet minuman, dan lainnya. Sampah-sampah tersebut sangat mudah ditemukan di setiap rumah, sehingga usaha kerajinan barang bekas ini, dinilai bisa dilakukan secara rutin, karena bahan mudah ditemukan, tanpa harus membeli.

“Kalau anggota kita yang ada di kawasan Posdaya Bahari, kini produknya sudah banyak laku terjual, baik pesanan secara online, maupun yang datang langsung ke rumah. Saya melihat produk kerajinan dari sampah ini, banyak peminat. Karena warna warni sampah yang dirajut, membuat hasil produk seperti tas, jadi terlihat sangat cantik,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KSU Derami Padang, Sayu Putu Ratniati, mengatakan, keberadaan pengurus Posdaya yang mampu menjadi pelopor bagi masyarakat sekitarnya, karena di dalam setiap Posdaya itu ada empat pilar yang dijalankannya. Seperti pilar pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Untuk kerajinan tersebut, ada dua pilar yang sekaligus dijalankan, yakni lingkungan dan ekonomi.

“Bagi kami  di koperasi, sangat menyambut baik dengan adanya peran ketua Posdaya yang dianggap sangat dibutuhkan banyak pihak. Hal seperti itu sangat kami dukung, karena melalui keahliannya, benar-benar telah memberdayakan keluarga,” sebutnya.

Ayu juga menyebutkan, selain Posdaya Bahari, Posdaya lainnya juga cukup banyak melakukan kerajinan serupa, yakni berawal dari Bank Sampah. Seperti Posdaya Permata Bunda, yang mengelola sampah yang dibelinya dari masyarakat melalui Bank Sampah, dan dibuat menjadi produk kerajinan.

“Intinya, KSU Derami Padang memiliki Posdaya yang tidak hanya sekadar menyalurkan pinjaman modal usaha dari Tabur Puja, tapi melalui empat pilarnya, Posdaya menjadi mitra KSU Derami dalam memberdayakan keluarga, untuk mengubah status sosial, dari prasejahtera menjadi sejahtera I,” pungkasnya.

Lihat juga...