hut

Kualitas Bahan tak Tentu, Kendala Pembuatan Papan Tulis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku UKM pembuatan papan tulis di Yogyakarta mengaku, mengeluhkan tidak tentunya kualitas bahan baku dari pabrik produsen kayu selama ini.

Hal itu dinilai menjadi hambatan bagi perajin papan tulis untuk menjaga kualitas produksi yang dihasilkannya.

Seperti diungkapkan salah seorang perajin papan tulis, Agus Nurahman, warga Harjowinatan, Purwokinanti, Pakualaman, Yogyakarta.

Lelaki yang sudah puluhan menjadi perajin papan tulis ini mengaku tak habis pikir bagaimana pabrik produsen bisa menjual kayu triplek dengan kualitas tak tentu.

“Kendalanya kadang kualitas triplek yang kita gunakan sebagai bahan baku pembuatan papan tulis itu bagus, tapi kadang kurang bagus. Padahal harga jualnya sama. Ini yang jadi masalah. Karena otomatis berpengaruh pada kualitas papan tulis yang kita hasilkan,” katanya, Selasa (2/7/2019).

Memproduksi berbagai jenis papan tulis mulai dari Blackboard, Whiteboard, formika magnit hingga formika non magnit, Agus memang hanya bisa mengandalkan pabrik produsen olahan kayu untuk menyuplai kebutuhan bahan baku usaha pembuatan papan tulis miliknya. Pasalnya ia tak memiliki kemampuan untuk membuat bahan baku sendiri.

“Kalau bahan baku kurang bagus, dampaknya papan tulis yang dihasilkan bisa melengkung. Tentu ini bisa mengurangi kepercayaan konsumen pada kita,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal semacam itu, Agus pun mengaku harus menyetok bahan baku kualitas bagus saat musim-musim pesanan sedang ramai. Hal itu dilakukan agar ia bisa menjaga standar kualitas papan tulis yang dihasilkannya.

Menjual papan tulis dengan harga bervariasi, tergantung ukuran dan bahan, mulai dari Rp350 ribu hingga Rp900 ribu, Agus pun mengaku mampu mengantongi omzet hingga Rp10 juta setiap bulan. Omzet itu ia dapat baik dari hasil berjualan secara online maupun offline.

“Semenjak memasarkan melalui internet secara online dua tahun lalu, omzet meningkat drastis hingga 50 persen. Dulu sebulan omzet paling hanya Rp5-6 juta. Tapi sekarang bisa mencapai Rp10 juta lebih,” katanya.

Agus sendiri mengaku belajar memasarkan produk secara online lewat para mahasiswa universitas di Yogyakarta yang membantunya. Sementara puluhan tahun menjadi pelaku UKM, ia sama sekali belum pernah mendapat pelatihan maupun bantuan dari pemerintah.

“Selama ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Pemasaran online saja dilakukan para mahasiswa yang datang ke sini dan menawarkan bantuan. Kalau dari pemerintah belum pernah ditawari dan ikut pelatihan-pelatihan semacam itu,” ungkapnya.

Lihat juga...