hut

Lebih dari Separuh JCH Jember Berisiko Tinggi

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Berdasarkan jumlah jemaah, Kabupaten Jember masuk lima besar jemaah calon haji terbanyak di Jawa Timur. Posisi pertama diduduki Kota Surabaya, disusul Kabupaten Sidoarjo, Gresik dan Malang.

Kasi Haji dan Umroh Kementerian Agama Jember, Ahmad Tholabi, mengatakan, awalnya jumlah calon haji Jember sebanyak 2.004 orang, namun ada yang melakukan mutasi ke luar daerah, dan ada yang mutasi masuk ke Jember, sehingga kini menjadi 1.981 orang yang akan diberangkatkan dari Kabupaten Jember.

“Besarnya porsi jemaah calon haji asal Kabupaten Jember ini menandakan semangat keagamaan masyarakat Jember cukup  tinggi. Jga salah satu indikator peningkatan perekonomian masyarakat Jember. Karena tidak jarang profil jemaah berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, seperti penjual es, pembantu rumah tangga dan lainnya,” kata Tholabi, Jumat (12/7/2019).

Lebih lanjut, Tholabi menyampaikan, tahun ini Indonesia mendapat tambahan kuota jemaah haji sebanyak 10.000 kuota, yakni dari 221.000 menjadi 231.000 kuota. Dengan tambahan kuota tersebut, Jawa Timur mendapat tambahan 436 kuota dan untuk Kabupaten Jember mendapat tambahan 28 kuota.

“Kami imbau seluruh jemaah calon haji menjaga kesehatan dengan baik, sehingga bisa melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci dengan kondisi yang prima,” ujarnya.

Sementara itu, dari 1.981 yang berangkat tahun ini, 64,77 persen calon jemaah haji memiliki riwayat penyakit kategori risiko tinggi, berdasarkan pemeriksaan medis seluruh calon haji yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Jember.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan calon haji Jember, tercatat 1.283 orang berkategori risiko tinggi atau 64,77 persen, sedangkan 698 orang atau 35,23 persen tidak memiliki penyakit kategori risiko tinggi,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Jember, Diyah Kusworini.

Diyah mengatakan, sebagian besar jemaah calon haji di Jember yang memiliki riwayat penyakit kategori risiko tinggi adalah lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun, dan memiliki penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan jantung, sehingga membutuhkan pengawasan dari tenaga kesehatan haji Indonesia (TKHI).

“Berdasarkan catatan yang kami terima, terbanyak penyakit yang diderita oleh jemaah calon haji asal Jember, yakni hipertensi, sehingga dokter dan petugas kesehatan di masing-masing kelompok terbang (kloter) akan memantau mereka saat menunaikan ibadah haji,” katanya.

Diyah juga mengatakan, jumlah petugas TKHI yang disiagakan sebanyak 13 orang, dengan rincian dua dokter dan 11 perawat, kemudian Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) sebanyak empat orang, dan Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) empat orang.

“Kalau ada calon haji yang memiliki risiko tinggi mengalami sakit, maka petugas akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan merujuk ke rumah sakit terdekat, agar mendapatkan pelayanan kesehatan,” pungkasnya.

Lihat juga...