Manusia Tidak Mampu Menciptakan Hujan

Editor: Mahadeva

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, M.Sc menerangkan metode modifikasi awan di Gedung D BMKG Jakarta, Rabu (24/7/2019) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Beberapa waktu belakangan, muncul wacana membuat hujan buatan oleh pemerintah untuk menanggulangi dampak bencana kekeringan. Istilah tersebut seakan-akan memperlihatkan kemapuan manusia menciptakan hujan.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, M.Sc, menyebut, istilah hujan buatan sebenarnya tidak tepat. “Karena sebenarnya manusia tidak bisa menciptakan hujan,” kata Siswanto di kantor BMKG, Rabu (24/7/2019).

Tindakan hujan buatan disebutnya, sebagai teknologi modifikasi cuaca. “Jadi bukan menciptakan hujan. Tapi meningkatkan dan mempercepat proses jatuhnya hujan,” ujar Siswanto.

Caranya, dengan menyemai awan atau cloud seeding. Kegiatannya dengan menggunakan bahan-bahan bersifat higroskopik atau menyerap air. Hasilnya, akan tumbuh butir-butir hujan di dalam awan. “Akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya awan,” jelas Siswanto.

Pada kegiatan tersebut, terjadi perubahan proses fisika. Ada tumbukan dan penggabungan atau collision and coalescense, atau proses lain yaitu pembentukan es atau ice nucleation.  “Hujan buatan,  atau tepatnya teknologi modifikasi cuaca sudah digunakan oleh banyak negara, untuk menanggulangi bencana akibat adanya penyimpanan iklim atau cuaca,” kata Siswanto lebih lanjut.

Di Indonesia, teknologi modifikasi cuaca merupakan tugas pokok dan fungso (Tupoksi) dari BNPB atau BPPT. “Kalau BMKG hanya sebagai pihak yang dimintakan pendapat, mengenai waktu yang tepat. Misalnya, ada wacana mau proses hujan buatan. Kita dari BMKG akan ditanya, probabilitasnya gimana. Efektif atau tidak,” jelas Siswanto.

Proses modifikasi tersebut, sepenuhnya bergantung pada kondisi awan. Kalau kondisi awal atmosfer mendukung, tidak bisa menghasilkan hujan, “Akhirnya upayanya akan sia-sia,” urai Siswanto.

Dua pertimbangan yang akan menentukan keefektifan hujan buatan adalah, faktor bakal awan dan kelembabannya. “Kalau bakal awannya tidak ada, atau kelembabannya terlalu kering, ya useless,” tandas Siswanto.

Mengenai kemungkinan keberhasilan teknik modifikasi cuaca, BMKG belum pernah melakukan penelitian.  “Selama ini kita belum bisa memastikan apakah hujan yang terjadi itu karena pertumbuhan secara alami atau karena penambahan inti kondensasi,” pungkasnya.

Lihat juga...