hut

Masa Panen, Warga Lampung Awetkan Durian untuk Kuliner Olahan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Memasuki Juli 2019, sebagian pemilik kebun durian di wilayah Wonosobo, Kecamatan Kota Agung Kabupaten Tanggamus mulai panen.

Sementara di Lampung Selatan (Lamsel), meski belum merata durian mulai dijual di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Musim durian, setiap tahun menjadi peluang usaha jual beli sekaligus kuliner olahan durian.

Jemu, salah satu warga Penengahan menyebut, di musim durian Dia bisa membeli buah durian dengan sistem ijon, dengan mendatangi petani pemilik kebun buah durian. Satu pohon durian dibeli dengan sistem tebas, ijon sesuai jumlah buah.

Rata rata satu pohon dibeli dengan harga Rp800.000 hingga Rp1juta. Semakin banyak buah di pohon harga tebas semakin mahal. Buah durian asal Lampung dikenal dengan sebutan durian alam. Sebab sebagian durian merupakan tanaman asli yang tumbuh dari biji sebelum ada tekhnik cangkok dan stek.

Jemu,salah satu pelaku usaha jual beli buah durian – Foto Henk widi

“Sembari menunggu durian tua sebagian buah durian merupakan jatuhan langsung dari pohon meski jumlahnya terbatas, saat musim kemarau dominan rasa buah manis dibanding saat musim hujan karena kadar air minim, tipis tapi legit,” ungkap Jemu kepada Cendana News, Sabtu (6/7/2019).

Bagi sebagian masyarakat, durian yang berlimpah diolah menjadi menu kuliner. Olahan buah durian diantaranya tempoyak bahan sambal dan kue leppuk sejenis dodol daging buah durian.

Di panen awal Jemu bisa memetik 1.000 butir durian. Buah hasil panen langsung disortir sesuai ukuran. Durian ukuran kecil dijual dengan sistem gandengan berisi dua butir, dengan harga Rp30.000. kuran sedang pergandeng Rp50.000. Sementara durian ukuran besar dijual satuan seharga Rp60.000. “Harga bisa fleksibel apalagi jika konsumen membeli dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh,”papar Jemu.

Bagi pecinta kuliner berbahan daging buah durian, para ibu rumah tangga, memilih durian peraman. Durian peraman atau difermentasi umumnya adalah durian yang dipetik dalam kondisi mentah. Meski difermentasi dengan daun leresede, daun pisang dan karbit, rasa buahnya tetap manis.

Namun rasa manis durian diperam akan berbeda dengan durian jatuhan. Sejumlah ibu rumah tangga kerap membeli untuk dibuat menjadi jus atau sop durian, tempoyak dan leppuk.

Buah durian yang sudah disortir, kerap dijual lebih murah karena sudah tidak nikmat saat disantap dalam kondisi segar. Satu butir buah durian sortiran dijual Rp5.000 perbutir. Pemilik warung kuliner pindang ikan patin, kuliner ikan bakar kerap membeli untuk membuat sambal.

Nurjanah, warga Penengahan, pemilik kebun durian di Desa Padan, kaki Gunung Rajabasa, memilih mengawetkan durian dengan mengolah. Olahan daging buah durian yang dibuat adalah adalah leppuk dan tempoyak. “Kalau tempoyak didapat dari daging buah yang difermentasi dengan garam, cabai, terasi, disimpan dalam toples kedap udara bisa tahan lama,” beber Nurjanah.

Tempoyak bisa diolah lebih lanjut dengan tambahan bumbu saat akan dibuat sambal. Sementara kue leppuk, dibuat dengan gula aren. Seperti membuat dodol, daging buah durian dicampur dan dimasak hingga matang menjadi leppuk. Leppuk yang sudah jadi bisa disimpan setahun di dalam lemari es.

Lihat juga...