hut

‘Menara Pancasila’ Bisa Jadi Solusi Bencana Tsunami

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Bumi tempat kita berpijak dibentuk dari proses geologi, dan akan terus bergerak dan berisiko. Bersahabat dan bermitigasi, adalah syarat hidup di bumi nusantara.

Menurut DR. dr. Budi Laksono, M.HSc., gempa merupakan risiko kehidupan di kepulauan Indonesia. Pergerakan lempeng dunia yang selalu terjadi, mengakibatkan terjadinya gempa dari yang ringan hingga besar, dan bisa menimbulkan tsunami.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi gempa dan tsunami. Tetapi, kewaspadaan harus selalu menjadi kesadaran kita,” kata DR. dr. Budi Laksono, M.HSc., saat dihubungi belum lama ini.

Untuk itu, ia menawarkan solusi bagi perlindungan secara dini terhadap risiko tsunami, yang dinamainya Menara Pancasila. Menurut Budi, pembangunan Menara Pancasila di setiap area wisata atau padat hunian pantai ini penting dan mendesak.

“Tsunami bisa diprediksi beberapa menit sebelum melanda daratan. Meskipun begitu, tidak semua orang mampu mencapai daerah aman, baik karena kemacetan jalan atau karena hambatan lainnya,” tandasnya.

Budi Laksono memberikan penjelasan tentang ‘Menara Pancasila’ kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam iven Jateng Fair 2019 di Pusat Rekeasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, baru-baru ini. -Foto: Ist.

Dengan adanya Menara Pancasila, kata Budi, saat dalam keadaan emergency tsunami, orang tidak mampu lari ke bukit lebih tinggi karena jauh atau karena terhalang orang banyak dan mobilitas yang sekejap, macet, maka ini adalah opsi penyelamatan orang di pantai tersebut.

Sedangkan saat keadaan normal, Menara Pancasila bisa menjadi restoran, kafe, area pendidikan kebencanaan, museum bencana, kantor, hotel, mercusuar, antena, area bisnis, adverstisement, area wisata flying fox atau panjat tebing, dan lain-lain.

Ketika ditanya awal mula munculnya ide Menara Pancasila tersebut, ingatan Budi langsung mengarah pada sebuah peristiwa tsunami di Aceh.

“Pada 29 Desember 2004, kami sudah masuki area bencana di Aceh. Kami membantu evakuasi dan memberikan pertolongan medis darurat pengungsi di area pinggiran di Aceh Barat dan Aceh Besar,” bebernya.

Ketika melihat beberapa masjid bisa bertahan dan banyak rumah hancur, maka selain melihat sebagai keagungan Tuhan, Budi mengaku juga mengkaji secara ilmiah, bagaimana masjid tersebut bisa bertahan.

“Dari Masjid Uleu Leu, seperti ada alasan masjid ini selamat karena banyak  jendela dan pintu besar yang hancur lebih dulu, sehingga air bisa menerobos lancar. Juga masjid di pantai barat,” kata Budi.

Ia pun lantas berdikusi dan mempelajari tentang konsep tsunami. Menurut Budi, memang logis bila bangunan dengan dinding ringan dan pilar kuat akan lebih bertahan.

“Maka kita membayangkan konsep bangunan Menara Eiffel Paris yang berdiri di atas 4 kaki saja dengan kolong yang longgar. Bila tsunami setinggi 20 meter, maka kekuatan air tidak terhalang dan melewai kolong bangunan,” imbuhnya.

Berdasar itu, lanjut Budi, maka bangunan yang tahan tsunami adalah bangunan tinggi pilar dengan kolong yang bisa dilewati air tsunami. Eiffel dengan 4 kaki menjadi ciri Paris. Sedangkan Indonesia, imbuh Budi, mempunyai Pancasila yang berkaki 5. Maka, bila bangunan antitsunami berkaki lima, kata Budi, bukan saja secara teoritis bangunan akan lebih kokoh, tetapi juga menggambarkan dasar filsafat hidup bangsa Indonesia.

“Ketika di Pantai Banda Aceh dan Meulaboh, banyak korban karena orang di pantai terkena tsunami. Bahkan, banyak pantai wisata kita yang jauh dari bukit, dalam pikiran saya, bila ada bangunan tinggi pasti akan lebih selamat. Kenyataan tsunami terjadi terus, sejak Pangandaran, Cilacap, Palu, Sumbar, dan lain-lain, maka bangunan ini perlu dijadikan pilot di Indonesia,” tutur Budi.

Dijelaskan Budi, Menara Pancasila adalah menara dengan kaki lima dari besi yang kuat seperi halnya menara Eifel, bentuknya lima kaki, karena dengan kaki lima mempunyai kekuatan yang seimbang. Bila ada satu kaki rusak, tidak akan menyebabkan rubuhnya menara. Selain itu, panca (5) adalah kata kunci persatuan bangsa kita.

“Menara Pancasila mempunyai pondasi kuat dan kaki berongga, sehingga bila ada tsunami, maka gelombang air melewati begitu saja di bawahnya. Pada area pertama 10 meter dari lantai, bisa dibuat lantai pertama, lalu 15 meter, lalu 20, 25 hingga 50 meter,” urainya.

Selain sebagai media pengamanan, Menara Pancasila juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran dan wisata. Untuk biaya pembuatannya, dalam hemat Budi tidak terlalu mahal dan manfaatnya sangat besar, termasuk bisa untuk area promosi produksi dalam negeri.

Pada atap bisa dibuat gardu pandang dan simbol ke-Pancasila-an. Pada lantai 1 dibuat restoran, lantai 2 bisa untuk area pembelajaran tsunami dan perpustakaan, lantai 3 bisa untuk hotel dan wisma, lantai 4 bisa untuk kantor dan seterusnya.

Lantas bagaimana rancang bangun detail Menara Pancasila itu, mulai dari bahan, ruang, hingga ketinggian?

Dijelaskan Budi, bangunan ini dirangcang dengan pondasi kuat, tahan gempa hingga 9 skala richter.

Tiang-tiang menggunakan besi baja. Lantai pertama dibuat pada permukaan 20 meter. Setiap 5 meter ada lantai dan di atas permukaan 30 meter, baru bisa ada ruang-ruang yang longgar hingga makin ke atas boleh ruang yang lebih masif. Semua bangunan adalah dari bahan ringan.

Budi mengestimasi, untuk membangun Menara Pancasila dengan ketinggian 40 meter, menurut konsultan bangunan swasta, diperkirakan menelan dana Rp3 miliar.

“Biaya ini dengan cepat akan kembali karena penggunaan dana untuk advertisment, hotel, kantor, kafe, antena, dan tempat hiburan yang produktif,” imbuhnya.

Disebutkan Budi, sejauh ini di seluruh dunia belum ada konsep Menara Pancasila. Di Jepang dan San Fransisco, ada bangunan di bukit untuk escape tsunami, tapi bangunan biasa.

Boleh dibilang, Menara Pancasila merupakan hasil karya istimewa dibanding peralatan deteksi tsunami yang lainnya. “Menara Pancasila adalah kesinambungan dari alat deteksi dini gempa dan tsunami.  Bila ada deteksi tetapi tidak ada survival escape, maka ibarat cuma memberi tahu adanya lonceng kematian. Menara tsunami akan menjadi survival building/shelter pasca-deteksi dini,” kata Budi.

Menurut Budi, kita sudah sering mengalami bencana. Dan, setiap bencana ada dalam waktu dan ruang yang khas. Sehingga dari satu bencana, kadang tidak bisa dijadikan acuan penanganan bencana berikutnya. Apalagi, kalau tidak belajar dan bermitigasi.

Ke depan, agar kebencanaan dapat diantisipasi dan ditangani dengan baik, perlu bermitigasi secara rutin dan konsisten serta menyediakan fasilitas infrastruktur yang bersahabat bencana adalah wajib.

“Bila suatu daerah merupakan daerah berisiko tsunami, maka dalam bermitigasi harus sadar risiko dan mulai membangun infrastruktur yang memadai. Menara tsunami bisa disandingkan dengan community shelter lainnya serta ‘Kapsul Tsunami’ pada keluarga yang rawan,” tandasnya.

Budi mengaku, konsep Menara Pancasila sudah dikomunikasikan dengan sejumlah pihak,seperti BNPB dan BPBD, bahkan hari-hari ini dipamerkan oleh BPBD Jateng di Jateng fair.

Ia pun berharap, kelak bisa dibangun konsep ini dan konsep aplied teknologi kebencanaan lain, agar masyarakat lebih nyaman, terlindungi dari risiko bencana.

“Penanganan kebencanaan adalah penanganan darurat yang generik, sehingga kecepatan pelayanan diperlukan daripada kemewahan pelayanan. Masyarakat diikutkan dalam pencegahan dan penanganan bencana,” pungkasnya.

Lihat juga...