hut

‘Mencencang Air’ Lestarikan Budaya Melayu di TMII

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Empat negara berkolaborasi menyuguhkan pertunjukkan seni tradisi bertajuk “Mencencang Air” di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (12/7/2019) malam.

Ini merupakan pagelaran seni tradisi melayu yang menyatukan empat negara serumpun. Yakni Perkumpulan Rumah Seni Aznur Depok, Jawa Barat, Indonesia, Putri Seni Budaya Brunai Darussalam, Alumni Teater Rimba Malaysia dan Cg. Karim Abbas Singapura.

Seni tradisi merupakan warisan leluhur yang harus terus dilestarikan. Dan, Perkumpulan Rumah Seni Asnur Depok merupakan sanggar yang menjunjung tinggi budaya tradisi.

“Mencencang Air, kami ambil istilah melayu yaitu tak putus air dicenggang. Biarlah berpisah negara tetapi tak akan bisa memisahkan persaudaraan empat negara yaitu Indonesia, Brunai, Malaysia dan Singapura,” kata Ketua Perkumpulan Rumah Seni Aznur, Asrizal Nur dalam sambutannya pada pertunjukan seni tradisi Mencencang Air di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Jumat (12/7/2019) malam.

Ketua Perkumpulan Rumah Seni Aznur, Asrizal Nur memberikan sambutan pada pertunjukkan seni tradisi Mencencang Air di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Jumat (12/7/2019) malam. -Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, kita adalah satu rumpun melayu, tetapi perkembangan politik dan zaman kadangkala memisahkan persaudaraan. Terjadinya kesenjangan ekonomi dan kemajuan antarbangsa itu pun menjadikan ketidakseimbangan dalam persaudaraan.

Oleh karena itu Asrizal bersama para seniman dari tiga negara bersepakat bagaimana budaya dapat menyatukan. Bila politik memisahkan maka budayalah yang menyatukan.

Maka itu menurutnya, budaya memang harus terus diperjuangkan dan dipertahankan. Apabila hilang satu saja budaya seperti teater bangsawan, beribu tahun lagi belum tentu lahir budaya yang memiliki peradaban.

“Saya sejak tahun 90-an di Jakarta berjuang terus untuk menata budaya terutama budaya melayu. Walaupun tidak semudah yang dibayangkan karena banyak kebudayaan yang berkembang di Jakarta tapi yang paling sudah memperjuangkan adalah budaya melayu,” ujarnya.

Menurutnya, kalau lenong ditampilkan di hadapan masyarakat Betawi. Tapi kali ini kita satukan Betawi dengan rumpun melayu. Sehingga diharapkan pertunjukkan ini dapat menumbuhkan cinta budaya melayu.

“Tak putus air mencencang, pertunjukkan seni tradisi melayu diharapkan dapat menumbuhkan cinta budaya kita pada warisan leluhur nenek moyang,” ujarnya.

Yusuf, seniman asal Brunai Darussalam yang berperan sebagai Sultan Borneo mengaku bangga bisa tampil mewakili negaranya dalam pertunjukkan ‘Mencencang Air’ di TMII.

“Ini kali pertama tampil di TMII. Saat datang ke sini tadi, saya sangat kagum dengan keindahan TMII. Alhamdulillah saya tampil menghibur pada pertunjukkan seni tradisi melayu, semoga terhibur,” ujar Yusuf kepada Cendana News ditemui di sela-sela acara.

Yusuf, pemeran Sultan Borneo pada pertunjukkan Mencencang Air di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Jumat (12/7/2019) malam. -Foto: Sri Sugiarti

Mencencang Air ini berkisah, syahdan di negeri antah berantah kerajaan besar bernama Indrapura Raya. Kerajaan damai, jaya dan sejahtera. Kekayaan alam dan kedamaian kerajaan itu menyebabkan lanun dari negeri jauh berhasrat untuk merampok kerajaan tersebut. Dan pada suatu masa mereka datang dengan pasukan besar.

Kerajaan besar itu tidak siap menghadapi serangan mereka, akhirnya raja Indrapura Raya dan permarsuri terbunuh. Untunglah keempat putranya berhasil diselamatkan oleh pemuka kerajaan.

Empat puluh tahun kemudian setelah runtuhnya kerajaan Indrapura Raya, berdirilah kerajaan baru bernama Indrapura Ciraja dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana.

Ia memiliki seorang putri cantik jelita dan santun. Kecantikan dan budi bahasanya tersebar sampai ke kerajaan tetangga. Yakni, kerajaan Malaya dan Borneo.

Kerajaan Malaya langsung datang menemui raja Indrapura melamar putrinya untuk putranya. Raja Indrapura tidak langsung menerima tapi meminta waktu untuk mempertimbangkan.

Namun tak lama kemudian datang Sultan Borneo bermaksud sama. Raja Indrapura berada dalam posisi serba salah.

Untuk menentukan sikapnya, maka raja Indrapura mengumpulkan pemuka istana dan kepala daerah di sekitar kerajaan untuk musyawarah. Seorang Datuk Padekik menyampaikan usulan agar putra dari lingkungan kerajaan Indrapura juga diberi kesempatan untuk melamar putri raja.

Dari usulan itulah muncul ide diadakan sayambara antara kerajaan Indrapura, Malaya dan Borneo. Siapa yang menang dapat mempersunting putri raja.

Sayambara dilakukan dengan menyertakan tiga putra terbaik, yakni putra Datuk Bendahara, Datuk Padekik dan Datuk Bebengkot. Dan sayambara dimenangkan oleh putra Datuk Bendahara.

Datuk Padekik yang memiliki ambisi untuk menikahkan anaknya dengan putri raja sangat kecewa. Inilah awal petaka itu. Datuk Padekik yang dipercaya untuk mengantarkan surat raja ke Sultan Malaya dan Borneo malah mengganti surat itu dengan isi yg berbeda dan menyampaikan fitnah luar biasa sehingga kedua kerajaan itu marah dan menyerang kerajaan Indrapura.

Ulah Datuk Padekik sebenarnya sudah diberi isyarat oleh Datuk Kelana, menyindir dengan lagu pantunnya. Namun karena amarah sudah merusak kalbu akhirnya mereka menyerang kerajaan Indrapura.

Ketika pasukan Sultan Malaya dan Sultan Borneo berada di kerajaan Indrapura siap untuk berperang. Di saat itulah muncul Datuk Kelana dan Datuk Senggoro menghentikan peperangan tersebut. Kedua datuk itu membuka rahasia yang ditutup rapat karena takut didengar lanun negeri jauh yang masih diam-diam berkuasa dan menghancurkan mereka bila bersatu.

Keempat sultan itu yakni Sultan Indrapura, Sultan Malaya, Sultan Temasik dan Sultan Borneo itu sebenarnya adik beradik.

Anak raja Indrapura Raya yang diselamatkan pemuka istana adalah Datuk Bendahara atau Datuk Kelanda dan Datuk Laksono yang Datuk Senggoro.

Setelah semua tahu ihwal hubungan persaudaraan itu peperangan terelakkan. Dan masing sultan mengetahui bahwa Sultan Indrapura saudara mereka hingga tidak diperbolehkan anak mereka menikah. Mereka pun akhirnya mengiklaskan putra Datuk Bendahara menikahi putri raja.

Lihat juga...