hut

Muro, Lumbung Ikan Masyarakat Hadakewa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LEWOLEBA — Suasana anak-anak dan para perempuan menangkap ikan dengan alat pancing sederhana seolah menjadi tradisi. Ikan pun dengan mudah ditangkap, baik Selar, Tembang, Kembung, Cucut dan ikan karang lainnya.

osef Magun ketua kelompok nelayan Cinta Bahari desa Lamatokan kecamatan Ile Ape Timur kabupaten Lembata. Foto : Ebed de Rosary

Ikan mudah ditangkap dan banyak bergerombol hingga pesisir pantai tentu jadi pertanyaan. Rupanya wilayah perairan di hampir sebagain besar desa Lamatokan merupakan areal Muro.

“Muro merupakan daerah larangan untuk melakukan aktifitas menangkap ikan menggunakan peralatan modern. Muro ini merupakan kearifan lokal warga desa Lamatokan yang turun temurun dan terus dipertahankan,” sebut Benediktus Bedil, direktur Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat), Senin (22/7/2019).

Muro sempat hilang namun kata Ben sapaannya, sejak 1985 dihidupkan kembali. Mikhael Sada, kepala desa waktu itu menghidupkan kembali Muro dengan luas semakin kecil yaitu cuma 2,87 hektar karena hanya meliputi wilayah Watowara.

“Pengelolaan dilakukan melalui sumpah adat dan dijalankan oleh pemerintah desa. Muro ini, dibuka seizin pemerintah desa dengan terlebih dahulu dilakukan ritual adat,” sebutnya.

Muro dibuka pada saat kebutuhan akan ikan cukup besar karena ada hajatan tertentu yang melibatkan hampir seluruh penduduk desa. Muro jelas Ben, identik dengan Malu Mara Soga Nara.

“Menjadi ketahanan pangan di laut ketika terjadi kelaparan dan ketika ada tamu datang Muro bisa jadi andalan memberikan pelayanan yang ramah kepada tamu. Ini terjadi karena selalu ada ikan di laut yang mudah ditangkap untuk menjamu tamu yang datang,” ungkapnya.

Muro kata Ben, semacam lumbung makanan yang setiap saat bisa diambil dan dikonsumi. Nenek moyangnya yang bermukim di pesisir pantai saat membuka Muro, pasti mengajak penduduk yang bermukim di gunung.

“Mereka lalu masuk ke laut dan menangkap ikan menggunakan panah dan tombak lalu dimasak dan disantap bersama,” terangnya.

Saat pulang, tutur Ben, warga yang bermukim di gunung akan membawa bekal ikan hasil tangkapan sementara warga pesisir akan mendapatkan singkong dan pisang yang dibawa warga yang bermukim di gunung.

Yosef Magun, ketua kelompok nelayan Cinta Bahari desa Lamatokan mengatakan, adanya Muro membuat warga bisa menangkap ikan di pesisir pantai menggunakan alat tangkap tradisional. Ikan terapung seperti tembang dan selar pun lebih jinak dan mudah ditangkap.

Menurut Yosef, Muro juga membuat ikan bisa berkembangbiak dengan aman. Tidak ada lagi katanya, nelayan dari wilayah di sekitar Teluk Hadakewa maupun dari luar yang melakukan pengeboman ikan.

“Adanya Muro dengan sanksi adat yang berat membuat nelayan di wilayah Teluk Hadakewa tidak berani melanggar aturan menangkap ikan menggunakan bom atau racun ikan. Ikan pun mulai banyak dan mudah ditangkap nelayan,” terangnya.

Warga desa tutur Yosef sangat bersyukur dengan adanya Muro karena pendapatan nelayan pun meningkat. Selain itu, anak-anak bahkan para perempuan bisa setiap saat menangkap dan mengkonsumsi ikan yang dipancing di pesisir pantai.

Lihat juga...