hut

Nelayan di Badung-Bali Berhenti Melaut

Editor: Koko Triarko

BADUNG – Selama tiga hari ini, puluhan nelayan di Pantai Kedonganan, Badung, Bali, tidak melakukan aktivitas melaut, karena tingginya gelombang di perairan Uluwatu dan sekitarnya. Terlebih, dengan adanya imbauan dari BMKG setempat, untuk mewaspadai potensi cuaca di sekitar perairan Bali bagian selatan tersebut.

“Iya, sudah ada tanda-tanda gelombang air laut mengalami peningkatan. Misalnya, arus laut mengarah ke selatan dan membawa buih putih banyak hingga jauh ke pinggir pantai,” ujar Agus Hariyanto, nelayan setempat, saat ditemui di Pantai Kedonganan Senin, (21/7/2019).

Agus Hariyanto, nelayan di Pantai Kedonganan, Badung, Bali. -Foto: Sultan Anshori

Agus menambahkan, saat ini ketinggian gelombang air laut mencapai tiga hingga empat meter. Hal ini membuat para nelayan was-was ketika melakukan aktivitas melaut. Untuk itu, mulai hari ini para nelayan memilih untuk meliburkan diri sementara waktu.

“Informasi dari BMKG katanya puncak ketinggian gelombang air laut akan terjadi pada 24 Juli mendatang,” kata pria asal Muncar Banyuwangi, ini.

Hal senada juga dikatakan oleh Made Sukarma, pemilik perahu nelayan di Pantai Kedonganan. Menurutnya, tingginya gelombang air laut tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi di tengah laut saja. Melainkan saat posisi perahu yang sedang disandarkan di pinggir pantai. Akibat gelombang air laut yang besar membuat perahu milik nelayan terombang-ambing oleh ombak tersebut.

Jika sempat, perahu para miliknya dan perahu nelayan lain diangkat hingga ke pinggir pantai untuk menghindari gelombang tinggi air laut tersebut.

“Makanya, kami para pemilik perahu berjaga-jaga di pinggir pantai seperti sekarang ini. Takutnya tiba-tiba perahu kami terbalik akibat digulung ombak keras itu. Atau lepas tali jangkarnya, sehingga perahu bisa juga terbalik dihantam batu karang di sekitar Bandara,” kata Made Sukarma.

Meskipun saat ini sedang musim ikan cumi dan tongkol, ia terpaksa harus meliburkan aktivitas perahunya untuk mencari ikan di laut. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan. “Saat ini cumi dan tongkol menjadi buruan utama kami, karena kebetulan lagi musim,” tandas lelaki paruh baya ini.

Lihat juga...