hut

Nelayan Flotim Kembali Dilaporkan Hilang

Editor: Mahadeva

LARANTUKA – Setelah nelayan asal Desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Fandi Tukan (30) yang hilang di perairan Desa Nobo, Kecamatan Ilebura hingga kini belum ditemukan. Kini, kembali terjadi, seorang nelayan asal Flores Timur tenggelam dan hilang.

“Seorang nelayan tenggelam di perairan Flores Timur. Nelayan ini berasal dari Desa Adonara, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur,” sebut Alfons, Sekertaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur (Flotim), Rabu (17/7/2019).

Nelayan yang hilang tersebut bernama Alep Malimun, laki-laki berumur 40 tahun. Diperkirakan hilang sejak Senin (15/7/2019). “Nelayan ini  diperkirakan hilang sekitar pukul 09.00 WITA saat melaut. Kami mengabarkan kepada tim SAR agar bisa melakukan pencarian terhadap korban tersebut,” tambahnya.

Kepala kantor Pencarian dan Pertolongan kelas B Maumere, I Putu Sudayana,MAP.Foto : Ebed de Rosary

Kepala kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) kelas B Maumere, I Putu Sudayana, mengatakan, setelah mendapatkan laporan pada Rabu (17/7/2019) sekira pukul 14.25 WITA, anggota SAR langsung melakukan kordinasi.

“Pada Pukul 14.30 WITA telah dikoordinasikan dengan instansi potensi SAR di wilayah kerja Kansar Maumere, diantaranya Lanal Maumere, Ditpolair Polda NTT, Polres Flotim, Pos AL Flotim, Polair Flotim dan BPBD Flotim,” jelasnya.

Pada Pukul 14.40 WITA, diberangkatkan satu tim rescuer Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Maumere, yang berjumlah enam orang. Menggunakan RIB 500 PK, tim tiba di lokasi sekira pukul 16.40 WITA setelah melakukan dua jam perjalanan.

“Unsur tim SAR gabungan yang terlibat anatar lain kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere sebanyak enam orang, Pos AL Flotim tiga orang, kantor BPBD Flotim lima orang. Tim juga melibatkan keluarga korban dan nelayan setempat,” ungkapnya.

Tim SAR gabungan tambah Putu,menggunakan peralatan perahu RIB 500 PK, dan peralatan SAR air. “Kami berharap dalam pencarian yang melibatkan segenap unsur ini, korban bisa segera ditemukan,” kata Putu.

Eman Diaz, warga Larantuka kepada Cendana News mengatakan, Dinas Perikanan Kabupaten Flotim dan Syahbandar Larantuka, harus bersikap tegas kepada kapal-kapal nelayan. Kapal nelayan harus dilengkapi dengan alat keselamatan, seperti pelampung dan alat komunikasi.

“Kapal nelayan masih banyak yang tidak memiliki pelampung dan alat komunikasi. Banyak nelayan yang berlayar hingga di atas 12 mil, sehingga kelengkapan kapal harus dipenuhi,” tegasnya.

Selain itu, nelayan yang memancing menggunakan perahu tradisional harus diberitahu untuk membawa alat komunikasi saat memancing. Ini penting, agar bila mendapatkan kendala bisa menghubungi kerabat di darat, untuk meminta pertolongan. “Saat cuaca tidak memungkinkan untuk melaut, nelayan sebaiknya jangan memaksakan kehendak untuk melaut, agar tidak mengalami musibah,” pungkasnya.

Lihat juga...