Omprongan Tembakau di NTB Picu Tingginya Kebutuhan Kayu

Editor: Koko Triarko

LOMBOK – Pengolahan tembakau dengan cara rajang dinilai bisa menjadi solusi mengurangi penebangan kayu untuk kebutuhan pembakaran tembakau dengan cara omprongan.

“Dulu proses omprongan tembakau menggunakan minyak tanah, tapi sejak kebijakan konversi minyak tanah ke LPG, minyak tanah susah didapatkan. Akhirnya banyak petani tembakau menggunakan kayu sebagai bahan bakar,” kata Basirun, petani tembakau Lombok Timur, Senin (29/7/2019).

Dengan jumlah oven tempat pengomprongan tembakau yang mencapai ratusan, katanya, bisa dibayangkan berapa banyak volume kayu yang dibutuhkan untuk proses omprongan sampai proses panen tembakau selesai.

Menurutnya, satu oven tembakau bisa menghabiskan tiga sampai lima truk kayu bakar, bahkan bisa lebih, untuk proses omprongan tembakau sampai daun tembakau benar-benar habis.

“Bisa dibayangkan, berapa batang kayu dalam satu kali musim tanam tembakau ditebang untuk bahan pembakaran omprongan tembakau,” katanya.

Banyaknya kebutuhan kayu untuk bahan bakar omprongan tembakau, disinyalir menjadi penyebab banyaknya terjadi penebangan kayu.

Berbeda dengan tembakau rajang, proses pengeringan cukup hanya dengan mengandalkan sinar matahari. Selain tidak membutuhkan kayu bakar, kualitas tembakau yang dirajang bagus dan halus, karena proses pengeringan dilakukan secara alami.

Supriadi, petani tembakau rajang, mengatakan, untuk bisa mengolah tembakau yang banyak, dengan lahan tanam luas, tidak bisa dilakukan tradisional, tapi harus menggunakan mesin.

“Produksi tembakau di NTB cukup besar, dengan lahan tanam cukup luas, kalau diolah secara tradisional tidak bisa, makanya harus ada mesin pengolah, biar bisa lebih cepat,” katanya.

Lihat juga...