hut

Pak Harto di Balik Bedug Masjid Istiqlal, Umur Kayu 300 Tahun

JAKARTA — Masjid Istiqlal di Jakarta menyimpan beragam keunikan yang menjadi destinasi wisata salah satunya menyimpan bedug terbuat dari kayu meranti, yang umur kayunya berusia 300 tahun. Saat ini bedug besar itu sudah tidak lagi ditabuh.

“Sekarang bedug yang ada di Istiqlal tidak dipakai lagi, suaranya kami rekam lalu diperdengarkan setiap sebelum adzan,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Huraira AS, saat ditemui di Masjid Istiqlal, Selasa (23/7/2019).

Ia mengatakan alasan tidak ditabuh lagi karena usia dan untuk menjaga bedug tetap awet mengingat nilai sejarah dan nasionalisme yang tersimpan dari pembuatan bedug tersebut.

Bedug hanya jadi pajangan yang bisa dilihat wisatawan khususnya turis mancanegara yang datang ke masjid terbesar di Asia Tenggara karya arsitek besar Indonesia, Fredrich Silaban atas perintah Presiden Soekarno itu. Dan kini, sesekali bedug itu ditabuh secara simbolik ketika ada kunjungan tamu kenegaraan.

“Keberadaan bedug tersebut memiliki sejarah menarik dibuat pada 1972 sebelum masjid selesai dibangun,” kata dia.

Ia mengatakan bedug sesuatu yang unik karena hanya ada di Indonesia. Bedug yang tersimpan di Istiqlal berbeda dengan bedug yang ada di daerah lain, selain ukurannya yang sangat besar juga nilai sejarah pembuatannya.

Bedug tersebut, lanjut dia, terbuat dari kayu meranti merah (shorea wood) asal Kalimatan Timur. Pembuatan bedug menghabiskan satu pohon.

“Usia pohon kayunya 300 tahun, bedug dibuat oleh PT Adikarya atas perintah Pak Harto,” katanya.

Ia menyebutkan, kayu meranti tersebut awalnya koleksi dari anjungan Kalimantan Timur yang ada di Taman Mini Indonesia Indah.

Ketika Presiden Soeharto mengunjungi anjungan Kalimantan Timur yang mempunyai koleksi kayu berumur 300 tahun yakni kayu meranti.

Saat itu juga Soeharto memerintahkan mengubah kayu meranti gelondongan besar itu menjadi bedug, lalu dihadiahkan ke Masjid Istiqlal. Bedug memiliki ukuran yang sangat besar yakni panjang tiga meter, berdiameter 2,7 meter serta berat tiga ton.

“Keberadaan bedug ini jadi pajangan sekaligus untuk pembelajaran bagi generasi muda tentunya, bahwanya nenek moyang kita pernah menggunakan alat ini untuk menunjukkan waktu masuknya salat,” katanya.

Banyak pelajaran lagi yang bisa dilihat dari bedug ini yakni terdapat simbol-simbol keberagaman seperti bunga lotus, tulisan Arab tetapi berbahasa Jawa yakni Sengkala yang artinya simbol tahun matahari menurut kepercayaan orang Jawa.

Terdapat juga ukiran di beduk yang dibuat oleh pengukir kayu dari Jepara dan terdapat tulisan Basmalah serta kalimat sahadat.

Ia menegaskan, keberadaan bedug bukan untuk memanggil orang salat, tetapi penada masuknya waktu salat. “Bedug bukan memanggil orang salat, memanggil orang salat memakai adzan,” kata dia. (Ant)

Lihat juga...