hut

Pascagempa, Sebagian Nelayan Lebak Tetap Melaut

Ilustrasi - Nelayan - Dok: CDN

LEBAK — Sebagian nelayan di wilayah pesisir selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tetap melaut pada Senin, setelah gempa bumi terjadi pada Minggu (28/7) pukul 21.25 WIB dengan pusat di barat daya Dayah.

“Kami tetap melaut,” kata Iming (45), seorang nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak.

“Kami sudah biasa merasakan gempa karena pesisir pantai selatan itu pusat gempa,” ia menambahkan.

Iming mengaku lega getaran gempa Minggu malam tidak besar dan tidak diikuti dengan gempa-gempa susulan.

Kawasan pesisir pantai selatan Kabupaten Lebak mulai dari Pantai Wanasalam, Binuangeun, Suka Hujan, Cihara, Panggarangan, dan Bayah masuk dalam “zona merah” gempa dan tsunami.

Ujang, nelayan di kawasan TPI Bayah, juga mengatakan bahwa dia bersama nelayan yang lain tetap berangkat ke laut untuk mencari ikan.

Sebagaimana biasa nelayan tradisional di daerah Bayah berangkat melaut dini hari dan akan kembali ke pesisir pantai sekitar pukul 10.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB.

“Kami sebagai nelayan tentu berdoa agar Sang Pencipta, Allah SWT, memberikan keselamatan,” katanya.

Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binuangeun Kabupaten Lebak Agus Taman juga mengatakan bahwa setelah gempa Minggu malam nelayan tetap melaut.

Suasana PPI Buniangeun pun pada Senin pagi ramai. Para nelayan, buruh bongkar ukan, dan pedagang ikan menjalankan aktivitas mereka sebagaimana biasa.

“Saya kira aktivitas nelayan normal seperti biasa,” kata Agus.

Pada Minggu (28/7) pukul 21.25 WIB, gempa dengan magnitudo 5.2–yang kemudian dimutakhirkan menjadi 4,9– melanda bagian wilayah Banten. Gempa itu pusatnya berada di laut pada kedalaman 10 kilometer di 59 km Barat Daya Bayah, Banten, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG).

Getaran gempa yang tidak berpotensi menimbulkan tsunami itu, menurut BMKG, dirasakan di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi Selatan, Depok, Serang, dan Munjul. [Ant]

Lihat juga...