hut

Pecalang Bali Dukung Pemerintah Batasi Kebiasaan Merokok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Langkah Pemerintah untuk mengurangi penggunaan rokok oleh masyarakat terus kian mendapat dukungan oleh sejumlah pihak.

Kali ini, dukungan datang dari organisasi Pasikian Pecalang di Bali. Pasikian Pecalang Bali Provinsi Bali merupakan bagian dari Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali yang membidangi tentang keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ketua Pasikian Pecalang Bali, Made Mudra, mengatakan, saat ini pihak desa Pakraman di seluruh Bali membuat  aweg-aweg atau aturan desa adat, di dalamnya membatasi penggunaan rokok. Bahkan, dilarang untuk merokok di dalam area pura.

“Untuk itu, saat ini pihak desa sudah menyediakan atau menyiapkan ruangan khusus bagi para perokok. Kalau untuk di dalam memang sudah ada larangan,” kata Made Mudra saat ditemui, Jumat (12/7/2019).

Poster pengumuman larangan merokok di salah satu tempat di Denpasar, Bali.-Foto: Sultan Anshori.

Langkah ini diambil agar tidak mengganggu masyarakat lain yang sedang melakukan aktivitas sembahyang di dalam pura. Karena perokok pasif bahayanya cenderung lebih tinggi jika dibandingkan perokok aktif.

Selain itu, kata Made Mudra, hal ini juga dirasa sebagai salah satu contoh yang bagus untuk citra pariwisata Bali. Mengingat Bali sebagai rujukan utama para wisatawan dunia untuk berlibur.

“Kita ingin tamu yang datang mencontoh kita. Masak kita memberikan contoh yang kurang baik dari segi kesehatan ini. Kan tidak Mas,” imbuh Made Mudra.

Ia berharap, langkah ini menjadi kerangka aturan bagi masyarakat yang harus diikuti. Atau paling tidak mencari  solusi  terkait penggunaan rokok. Mengingat, rokok merupakan salah satu sumber APBN yang dinilai menguntungkan dari segi pendapatan negara.

“Kebetulan saya sendiri bukan perokok. Dan saya tidak anti rokok. Akan tetapi harus dicari solusi terbaiknya. Misalnya saat ini ada informasi penggunaan rokok alternatif (vape). Jika itu solusinya mengapa tidak kita dukung,” tegas Made Mudra.

Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Ariyo Bimmo, selaku Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR menilai, kehadiran produk tembakau alternatif yang lebih ramah lingkungan dan lebih rendah risiko menjadi solusi dan terobosan terbaru yang patut diperhatikan.

Terlebih kebijakan pengurangan akan bahaya tembakau melalui produk alternatif di wilayah Bali secara tidak langsung akan menciptakan kenyamanan para wisatawan, terutama mereka yang telah menggunakan produk tembakau alternatif.

“Pulau Bali sebagai salah satu pusat pariwisata memiliki tantangan dan dinamika tersendiri, khususnya mengenai hal ketertiban, keamanan serta kebersihan bahkan kesehatan. Inilah yang harus kita pahami bersama,” tandas Ariyo Bimmo.

Lihat juga...