hut

Pegiat Lingkungan Balikpapan Nominator Apresiasi Wanalestari

Editor: Mahadeva

Agusdin, Pegiat Lingkungan Balikpapan yang masuk sebagai nominator Apresiasi Wana Lestari, Rabu (17/7/2019) – Foto Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Pegiat lingkungan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Agusdin, menjadi nominator apresiasi wanalestari kategori Masyarakat Peduli Api 2019.

Peraih satyalancana pembangunan bidang lingkungan hidup di 2015 itu, mewakili Kalimantan bersama dua orang lainnya. “Selain saya, ada Pramudi dari Daops Pontianak, dan Hasdiana dari Sangkima,” ungkap Agusdin, Rabu (17/7/2019).

Agusdin menyebut, ketiganya mengikuti penilaian di Jakarta dan Bogor pada 9 hingga 12 Juli lalu. Penilaian masyarakat peduli api, dilaksanakan dengan melihat kegiatan di daerah, kemampuan teknis dalam melaksanakan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta dampak kegiatan terhadap penurunan luas karhutla.

Apresiasi Wanalestari, merupakan penilaian prestasi berdasarkan inisiatif dan partisipasi, dalam pelaksanaan tugas di bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Acara tahunan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tersebut, juga menjadi sarana bertukar informasi, pengalaman serta membangun jejaring kerja antar para pemenang lomba atau peraih apresiasi wanalestari.

Masyarakat yang terpilih, akan diundang pada Agustus mendatang untuk mengikuti penyerahan penghargaan, apresiasi sertifikat, piala, dan acara ramah tamah dengan Presiden.

Agusdin tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) Karang Joang, yang berada di Kecamatan Balikpapan Utara, Kota balikpapan, Kalimantan Timur. Peraih Kalpataru 2006 itu, aktif mengajak masyarakat menjaga Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). “Sebenarnya, jauh sebelum adanya MPA ini, saya dan teman-teman sudah membentuk Tim Serbu Api sejak 1998,” katanya.

Tim Serbu Api dibentuk ketika kebakaran besar melanda HLSW di 1998. Kebakaran hutan yang disebut menjadi yang terburuk di Kalimantan Timur itu, terjadi sepanjang Maret hingga Mei 1998. Hal itu akibat dampak El Nino.

Untuk memadamkan api, ratusan harus warga dikerahkan. Warga bekerja keras agar permukiman mereka selamat dari kobaran api. Setelah api berhasil dipadamkan, muncul masalah baru dengan keberadaan puluhan titik api. “Titip api itu muncul dari dalam tanah. Asalnya bongkahan batu bara yang selama ini terlindungi pohon,” jelasnya.

Memadamkan api dari batu bara yang terbakar lebih sulit dibandingkan pohon. Karena letaknya di bawah lapisan tanah, sehingga perlu penanganan khusus. Butuh waktu empat tahun untuk melokalisir api dari batu bara.

Namun, kebakaran hebat kembali melanda HLSW di 2005. Karena peristiwa itu, Agusdin berinisatif melatih dan memfasilitasi pembentukan serta pengukuhan PAM Swakarsa masyarakat, Tim Pemadam Kebakaran, dan Tim Serbu Api.

Agusdin turut membantu dan mendukung program pemerintah pengembangan Kebun Raya Balikpapan. Untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Dia juga memprakarsai terbentuknya beberapa kelompok tani, dengan usaha tanaman tumpangsari dan kerajinan daur ulang. Pengetahuan memadamkan api kebakaran hutan diperoleh Agusdin dari pelatihan yang diikutinya di Riau.

Lihat juga...