hut

Pemkab: Peran Masyarakat Penting Cegah Abrasi di Pesisir Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Asisten Bidang Pemerintahan Pemkab Lamsel, Supriyanto menekankan, peran masyarakat dan sejumlah elemen, penting untuk mencegah abrasi dan kerusakan lingkungan akibat gelombang pasang ,angin kencang pesisir Lampung Selatan (Lamsel).

Supriyanto, asisten bidang pemerintahan pemkab Lampung Selatan saat berada di lokasi konservasi mangrove Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa. Foto: Henk Widi

Disebutkan, usai tsunami 22 Desember 2018 silam di pesisir Rajabasa, Kalianda Lamsel, sejumlah upaya pemulihan dilakukan. Berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) penanaman pohon dilakukan di sepanjang pesisir terdampak tsunami.

Koordinasi juga dilakukan bersama sejumlah lembaga pendidikan, pegiat lingkungan. Sejumlah tanaman berfungsi sebagai pencegah abrasi di antaranya cemara, kelapa, ketapang, mangrove dan tanaman pantai lainnya.

“Upaya konservasi lingkungan erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat, mencegah bencana yang bisa datang setiap saat sebagai bagian dari mitigasi bencana namun sekaligus sebagai bagian pemberdayaan masyarakat pesisir,” sebutnya kepada Cendana News, Rabu (17/7/2019).

Selain di pesisir Lamsel yang ada di pulau Sumatera, konservasi lingkungan juga dilakukan di Pulau Sebesi. Pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) pemicu tsunami sebagian pesisirnya mengalami kerusakan.

“Berkat upaya masyarakat dan sejumlah komunitas peduli lingkungan, penanaman mangrove dilakukan. Mangrove terbukti mencegah gelombang tsunami saat bencana melanda kawasan tersebut,” tambahnya.

Selain peredam tsunami, keberadaan mangrove sangat penting bagi lingkungan pesisir. Fenomena pasang surut air laut penyebab abrasi bisa dicegah. Angin kencang yang kerap merusak perahu nelayan juga bisa dicegah dengan keberadaan tanaman tersebut.

Bentang alam pesisir Lamsel yang disebutnya mencapai 240 kilometer dari perbatasan dengan Lampung Timur dan Bandarlampung sebagian rawan kerusakan lingkungan.

“Pada musim angin barat dan angin timur, selain bisa merusak fasilitas tambat perahu nelayan, gelombang tinggi ikut merusak budidaya rumput laut,” katanya.

Bambang, salah satu nelayan di Desa Ketapang menyebutkan akibat abrasi, tanggul pemecah gelombang dari beton sepanjang 2 kilometer di wilayah tersebut rusak.  Imbasnya sebagian lokasi tambat rusak sehingga sebagian nelayan memilih menaikkan perahu ke daratan.

“Kerusakan lingkungan pantai sudah dicegah dengan upaya pembuatan pemecah gelombang, tetapi kuatnya gelombang membuat kerusakan tidak bisa dihentikan,” ungkap Bambang.

Tidak hanya itu, pada lokasi pusat pendaratan ikan Ketapang, gelombang ikut merusak tanaman rumput laut nelayan budidaya. Bagi nelayan tangkap, abrasi membuat tanggul batu rusak. Ratusan nelayan sudah melakukan langkah usulan ke pemerintah namun upaya perbaikan belum dilakukan.

“Perbaikan tanggul serta kolam tambat perahu nelayan sangat penting agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah,” tutupnya.

Lihat juga...