hut

Penanganan Tepat Naikkan Angka Harapan Hidup Penderita Kanker

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Tata laksana pengobatan kanker yang dilakukan dengan basis sinergisitas sektoral, dinyatakan mampu menaikkan angka harapan hidup penderita kanker. Karena itu, Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam (PERHOMPEDIN), kembali menggelar ROICAM7 untuk menjembatani semua pihak yang terlibat dalam kasus penyakit kanker, dan untuk menepis anggapan, bahwa penyakit kanker tidak dapat disembuhkan.

Data Globocan 2018, menyatakan setiap tahun tercatat ada 348.809 penderita kanker payudara di Indonesia. Dengan rincian, empat yang terbesar, kanker payudara 58.000 kasus, kanker leher rahim 32.000 kasus, kanker paru 30.000 kasus dan kanker usus besar 30.000 kasus. Juga tercatat 207.000 kematian akibat kanker.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD.-KHOM., menyatakan, penyakit kanker merupakan penyakit kedua yang menghabiskan biaya besar, jika tidak ditangani secara menyeluruh dan tepat.

“Kanker itu paling menghabiskan uang setelah jantung. Hitungan kasarnya, per orang bisa menghabiskan dana Rp265 juta. Bayangkan jika dana itu dikalikan dengan jumlah penderita baru yang sekitar 300 ribu orang itu. Besar, kan?” kata Prof. Aru, di sela acara ROICAM7 (7th Role of Internist in Cancer Management) di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Karena itu, Prof. Aru menekankan pentingnya kerja sama dari masyarakat dan ahli medis untuk mencegah penyakit ini. Atau jika sudah terkena, bisa meningkatkan angka harapan hidup pasien penderita kanker.

Menurutnya, tata laksana pengobatan kanker menjadi penting, karen  saat pasien terdeteksi kanker, maka yang utama adalah keputusan akan pengobatan yang tepat. Dengan pengobatan yang tepat dan cepat, maka angka harapan hidupnya pasti juga akan menningkat.

“Bagaimana bisa memberikan pengobatan yang tepat? Ya, dengan mendapatkan semua diagnosa dari masing-masing spesialis. Jadi, ada internisnya. Kalau masih stadium awal, artinya ada dokter bedahnya. Dan, untuk terapinya nanti ada ahli lainnya. Jadi, semua kumpul,” jelasnya.

Prof. Aru menyebutkan, dalam salah satu penelitian di Inggris, menyebutkan bahwa pada kasus kanker usus pada survivor lima tahun, jika perawatan dilakukan secara tim atau sinergi sektoral, angka harapan hidup ada pada angka 60 persen. Jika tidak dilakukan dalam tim, maka angka harapan hidup yang didapat hanya 40 persen.

“Angka ini bisa berbeda pada setiap kasus kanker dan pada tahunnya. Tapi ini sudah menjadi salah satu sebab, mengapa kita harus melakukan pengobatan ini dengan tata laksana sinergitas sektoral,” katanya.

Peran sinergi juga penting saat tahap edukasi dini. Agar biaya tidak membengkak, maka penting untuk masyarakat melakukan deteksi dini pada kanker. Untuk membuat masyarakat sadar, bukan hanya tugas pemerintah atau ahli medis saja. Tapi juga merupakan tugas dari media.

“Kenapa media? Karena masyarakat kan hanya melakukan berdasarkan apa yang mereka lihat, mereka baca dan mereka dengar. Di sini media harus ambil peran,” kata Prof. Aru.

Alasan ketiga, sambungnya, yaitu saat sudah terkena kanker, peran dari ahli medis sebagai pemberi saran pengobatan akan berdampingan dengan pemerintah sebagai pemegang kebijakan pendanaan, dan komunitas atau keluarga sebagai pihak yang menyokong pasien dari segi mental.

“Jadi, semua pihak harus tergabung. Saling membantu. Jangan terpisah-pisah,” tegas Prof. Aru.

Senada dengan Prof. Aru, Ketua PP PERHOMPEDIN, Dr. dr. T Djumhana Atmakusuma, Sp.PD.-KHOM., menyatakan, bahwa sosialiasi merupakan bagian yang bisa dilakukan oleh media.

“Kami memang memberikan edukasi pada setiap pasien kami. Tapi faktanya, pasien kanker itu banyak sekali. Dalam satu poli, itu bisa ada 150 orang dalam setiap waktu,” katanya.

Karena itu, pihaknya berusaha bekerja sama dengan media untuk menyampaikan apa yang perlu diketahui oleh masyarakat. Apa itu kanker, bagaimana menanggulanginya, bagaimana mengetahuinya.
Dan, para ahli medis akan mengambil bagian dalam penjelasan pada orang yang sudah terpapar kanker. Misalnya, terkait efek obatnya, pengaruh perawatan yang diberikan pada angka harapan hidup atau alat yang akan digunakan dalam perawatan penyakit yang dideritanya.

“Tata laksana ini sudah ada. Sekarang setiap rumah sakit sudah memiliki national guidance dalam memberikan rujukan. Jadi masyarakat tinggal datang ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan awal, dan nanti akan dirujuk ke mana untuk pemeriksaan selanjutnya,” ujarnya.

Pengobatan yang tepat dan tepat terbukti dapat meningkatkan harapan hidup para penderita kanker. Ini terbukti dengan beberapa data yang menunjukkan, bahwa selama 40 tahun terakhir ada peningkatan angka kesembuhan yang cukup signifikan.

“Contohnya, penyakit kanker payudara stadium 4, saat ini sudah memiliki tingkat harapan hidup 50 persen, lebih dari lima tahun. Jauh lebih besar, jika dibandingkan 30 tahun lalu, yang tidak sampai 20 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...