Pentingnya Pencegahan Kekerasan Rumah Tangga Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak kerap kali menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga. Meskipun sudah ada undang-undang yang memberikan sanksi hukum bagi pelaku kekerasan, namun kekerasan perempuan dan anak dari tahun ke tahun semakin meningkat. Maka, perlu upaya pencegahan sejak dini.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, hal tersebut juga mengingatkan Sumatera Barat, sebagai  daerah yang dikenal menjunjung tinggi adat istiadat. Seorang ayah dan paman, misalnya, berkewajiban memberikan pendidikan dan bimbingan serta perlindungan.

“Adat istiadat seperti inilah yang diharapkan di masa mendatang bisa menjadikan orang  berguna. Termasuk melindungi diri dan lingkungan juga keluarganya,” katanya, Kamis (11/7/2019) malam ini.

Ia menyampaikan, bahwa kekerasan pada rumah tangga kerap kali terjadi, baik kekerasan terhadap perempuan, anak-anak, bahkan di lingkungannya seperti pembantu rumah tangga atau yang menetap dalam rumah tangga tersebut.

“Ini seringkali kita dengar, korban kekerasan dalam rumah tangga kebanyakan perempuan, baik kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga,” ujarnya.

Pemerintah telah mengatur melalui undang-undang 23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga, dengan tujuan menghapus segala bentuk kekerasan rumah tangga, melindungi korban kekerasan rumah tangga, menindak pelaku dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

Menurutnya, untuk memberikan perlindungan kepada perempuan pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat pun telah membuat turunan undang-undang tentang kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam Perda nomor 5 tahun 2013 tentang perlindungan perempuan dan anak.

Dikatakannya, hal tersebut dilakukan dalam rangka ketahanan keluarga yang sejahtera. Untuk itu, Nasrul Abit berharap pemerintah dapat memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak dengan melaksanakan sosialisasi pencegahan kekerasan perempuan dan anak dengan mengoptimalkan peran adat, budaya, agama dan organisasi kemasyarakatan.

“Apalagi kekerasan bagi para perempuan dan anak-anak akan membekas seumur hidupnya dan akan mengakibatkan masalah di kemudian hari. Maka kita sebagai warganegara yang baik harus mendukung dengan berperan aktif memberantas kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tuturnya.

Setidaknya dari pemikiran Nasrul Abit, ada cara pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, dapat dilakukan seperti, sebagai orang tua disarankan jangan memberikan contoh kekerasan terhadap anak. Misalnya sering membentak kepada anaknya atau memukul baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

“Hal ini akan tertanam dalam diri anak sehingga mempengaruhi mental dan bisa berakibat akan melakukan hal yang sama kepada orang lain,” sebutnya.

Selanjutnya, perlu menanamkan nilai-nilai agama dalam keluarga. Dengan menerapkan ajaran-ajaran agama islam kepada anak-anak sehingga mereka bisa berperilaku dengan baik.

Sehingga keluarga akan lebih harmonis antara suami-istri dan anak. Segala persoalan bisa diselesaikan dengan berdialog dan dengan penuh kasih sayang.

Tidak hanya itu, perlu juga memberikan pendidikan yang baik, selalu disiplin, budi pekerti dijaga. Hal yang dimaksud yakni untuk generasi anak-anak, jangan terlalu bebas bermain game dari dunia internet yang mengandung sisi negatif. Karena hal tersebut, sangat mempengaruhi pikiran dan mentalnya.

“Solusi lainnya juga dapat melaporkan pada yang berwajib, apabila ada perlakuan kekerasan secara fisik, psikis maupun seksual terhadap perempuan maupun anak-anak. Harap langsung melaporkan kepada yang berwajib untuk ditindak secepatnya. Hal ini mencegah agar korban tidak semakin banyak,” tegasnya.

Nasrul menjelaskan, dari sisi pemerintah juga telah melakukan tindakan dengan membuka lapangan pekerjaan baru, agar masalah kesejahteraan masyarakat meningkat, karena pengaruh ekonomi di lingkungan masyarakat sangat penting.

“Dengan dukungan serta partisipasi dari semua pihak maka kekerasan terhadap anak dan perempuan bisa diberantas,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua umum BKOW Sumatera Barat, Wartawati, mengatakan, bahwa perempuan dan anak-anak merupakan sosok yang lemah, rentan terhadap perilaku kekerasan sehingga perlu dilindungi.

Bahan, setiap tahun dunia internasional melakukan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, terhitung mulai tanggal 25 November (yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) sampai dengan tanggal 10 Desember (Hari Hak Asasi Manusia atau HAM Internasional).

Ia menyebutkan, dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

“Kampanye ini merupakan gerakan internasional untuk mendorong upaya  penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia mulai dari sekarang,” ungkapnya.

Wartawati mengatakan banyak hal yang memicu adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak, seperti kondisi ekonomi yang mengakibatkan pertengkaran dalam keluarga, eksploitasi tenaga kerja anak di bawah umur, lingkungan kekerasan sudah biasa terjadi dan masih banyak lagi.

Strategi pencegahan kekerasan terhadap anak dapat dilakukan mulai dari lingkungan terdekat yakni keluarga, karena keluarga adalah pengasuh pertama anak yang berpengaruh dalam membangun karakter anak.

“Untuk itu saya mengajak masyarakat dapat berperan aktif dan berkomitmen untuk Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak,” tegasnya.

Lihat juga...