hut

Permintaan Ikan Tawar di Lamsel, Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Permintaan akan ikan air tawar dan tambak di Lampung Selatan, meningkat menyusul minimnya hasil tangkapan ikan laut. Sejumlah pedagang ikan laut pun beralih menjual ikan tawar.

Sumani, salah satu pelele atau pedagang ikan keliling di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, memilih menjual ikan kolam dan tambak atau ikan air tawar, seprerti ikan bawal, lele, gurami, nila dan patin. Sedangkan ikan tambak di antaranya, udang vaname, bandeng.

Sebagian ikan air tawar yang dijual menurut Sumani didatangkan dari Cianjur, Jawa Barat. Ikan air tawar dari wilayah itu dengan jenis bawal, emas, patin, diminati masyarakat. Sebab sistem budi daya pada air mengalir membuat kualitas ikan cukup baik.

Harga ikan yang dijual mampu bersaing dengan ikan budi daya masyarakat yang ada di Lamsel. Selain konsumen rumah tangga, ikan air tawar dipasarkan ke sejumlah pemilik warung makan.

Hasan, nelayan Kalianda memperlihatkan hasil tangkapan ikan tanjan dan pirik bahan ikan asin, Jumat (26/7/2019) -Foto: Henk Widi

Pilihan menjual ikan air tawar dilakukan akibat hasil tangkapan nelayan, menurun. Pada kondisi normal, ia kerap membeli ikan laut dari tempat pendaratan ikan (TPI) Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Sebagian didatangkan dari TPI Ketapang, Keramat Muara Piluk dan Kalianda. Jenis ikan laut yang minim, membuat ikan tawar menjadi pilihan untuk dijual secara keliling.

“Ikan air tawar hasil budi daya akan selalu tersedia, karena panen bisa dilakukan setiap hari, namun tetap didatangkan dari wilayah Cianjur, karena kualitas ikannya lebih disukai pelanggan berkat cara budi daya yang baik pada air mengalir,” papar Sumani, saat ditemui Cendana News, Jumat (26/7/2019) siang.

Selain ikan air tawar dari Cianjur, jenis ikan hasil budi daya masyarakat Palas, dan Sragi kerap diminati. Jenis ikan yang dikembangkan warga di antaranya nila, gurami, dan lele. Selain itu, jenis ikan hasil tambak tradisional yang dikembangkan, seperti bandeng, kakap putih, udang windu dan vaname, juga mengalami peningkatan permintaan.

Menurutnya, sejumlah ikan air tawar dijual dengan harga sama. Meski budi daya ikan air tawar terkendala pasokan air, Sumani memastikan tidak mempengaruhi harga jual. Jenis ikan air tawar dijual dengan harga mulai Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram.

Sementara untuk ikan tambak jenis bandeng dan kakap putih dijual mulai harga Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

“Harga lebih murah dibandingkan ikan laut yang saat ini dijual termurah mencapai Rp30.000 per kilogram, karena minimnya pasokan,” ungkap Sumani.

Permintaan yang meningkat dari budi daya tambak juga diakui Toni, salah satu pekerja pemilahan udang vaname. Ia menyebut, pasokan udang vaname kerap diperoleh dari tambak tradisional. Harga udang vaname menyesuaikan ukuran. Per kilogram dijual mulai kisaran Rp50.000 hingga Rp90.000 di level petambak. Udang vaname menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menyiapkan konsumsi bagi keluarga.

Menurutnya, permintaan udang putih atau vaname banyak berasal dari Jakarta dan Banten. Sekali pengiriman bisa mencapai dua hingga empat ton. Udang yang sudah dipilah atau disortir akan dikirim memakai lemari pendingin atau kotak berisi es. Penggunaan es dilakukan agar udang tetap dalam kondisi segar hingga lokasi pengiriman.

“Sebagian pembudidaya memilih memanen secara parsial sebelum panen total, karena permintaan sedang bagus,” papar Toni.

Minat akan udang vaname yang tinggi, diakuinya seiring tumbuhnya usaha kuliner. Udang vaname kerap disajikan sebagai hidangan yang dikreasikan bersama sejumlah sayuran.

Meski dikembangkan di tambak, udang vaname kerap disajikan sebagai makanan boga bahari. Mesi harga masih cukup stabil, permintaan udang vaname yang rutin membuat usaha tambak udang terus berjalan di wilayah Sragi.

Imbas cuaca kurang bersahabat, paceklik tangkapan ikan laut diakui Hasan, salah satu nelayan. Warga Kalianda bawah tersebut mengatakan, gelombang tinggi, angin kencang berimbas nelayan tidak mendapat tangkapan banyak. Selain ikan ukuran besar, jenis ikan ukuran kecil seperti teri, tanjan dan ikan pirik sulit diperoleh. Sejumlah penjual ikan laut yang masih bertahan, mendapat pasokan dari wilayah lain.

“Sebagian ikan laut yang dijual, bahkan merupakan hasil tangkapan dari pantai timur saat musim angin selatan ini,” ungkap Hasan.

Menurut Hasan, sejumlah pedagang ikan laut yang ada di pasar ikan higienis Kalianda juga menjual ikan air tawar. Pasokan ikan laut masih diperoleh sejumlah nelayan ukuran besar di atas 15 GT dengan jaring rampus.

Ia dan sejumlah nelayan lain pun, berharap kondisi perairan segera membaik agar nelayan bisa kembali mendapat hasil tangkapan.

Lihat juga...