hut

Program ‘Nol Sampah’ SDN 1 Pasuruan Ciptakan Sekolah Hijau

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya, masih kerap terjadi di Lampung Selatan. Baik di lingkungan sekolah maupun di sejumlah fasilitas publik. Untuk itu, SDN 1 Pasuruan di Kecamatan Penengahan menerapkan program “Nol Sampah”.

Topan Haryono, kepala sekolah setempat mengatakan, program Nol Sampah juga merupakan bagian dari upaya menciptakan sekolah hijau berwawasan lingkungan. Pihak sekolah pun menyiapkan berbagai jenis tempat sampah. Mulai dari ember, kotak sampah plastik, karung, lubang sampah, dan lainnya.

Menurut Topan, progam Nol Sampah juga merupakan upaya konservasi lingkungan. Sebab, sejumlah sampah daun tanaman yang ada di lingkungan sekolah diubah menjadi kompos, sebagai media tanam sayuran, bunga serta pupuk tanaman buah di lingkungan sekolah.

Puluhan tanaman buah sengaja ditanam oleh sekolah meliputi sirsak, nangka mini, mangga, jambu air, jambu kristal dan kelengkeng.

Penyediaan kotak sampah menjadi cara mengurangi pembuangan sampah sembarangan di lingkungan perumahan -Foto: Henk Widi

“Program Nol Sampah menjadi cara mengajarkan siswa sejak dini, agar tidak membuang sampah sembarangan, terlebih jenis sampah yang tidak bisa diurai. Selain itu, siswa diajak merawat tanaman yang menghasilkan buah dan oksigen,” terang Topan Haryono, Rabu (24/7/2019).

Topan mengatakan, pihaknya juga menganjurkan kepada para siswa untuk tidak membawa botol minuman kemasan sekali buang. Kepada orang tua, dianjurkan membawa tumbler minuman yang bisa diisi ulang, dicuci sehingga bisa digunakan berulang. Cara tersebut efektif mencegah sampah plastik di sekolah. Sebaliknya, bagi para pedagang yang berjualan di sekolah, diwajibkan menyiapkan kantong sampah.

Sistem gotong royong dalam menciptakan sekolah berbasis lingkungan juga dilakukan dengan membuat Taman Sekolah. Ada tanaman bunga, buah dan sayuran. Penyediaan taman menjadi media pembelajaran bagi siswa, untuk memanfaatkan lahan.

Meski lahan sempit, sejumlah wadah plastik bisa didaur ulang menjadi pot. Sekolah juga berencana menanam sayuran organik menggunakan media bambu dengan tanaman vertikal.

Menurut Topan, maraknya sampah di sekitar lingkungan sekolah yang dekat dengan jalan raya, disisasati dengan tanaman. Selama ini, lahan kosong yang tidak dimanfaatkan kerap menjadi lokasi pembuangan sampah. Sehingga, sebagian lahan kosong tersebut ditanami pisang, singkong serta sejumlah pohon buah untuk peneduh.

“Sampah yang bisa diubah menjadi pupuk selanjutnya akan digunakan sebagai media tanam sayuran, agar nol sampah bisa diterapkan,” ungkap Topan Haryono.

Menciptakan lingkungan yang bersih bebas dari sampah di sekolah, kata Topan, juga memberikan nilai positif bagi siswa. Selain lingkungan menjadi nyaman dan sejuk, pola pikir anak akan pentingnya lingkungan yang sehat terus ditanamkan. Sebab, saat memiliki kesadaran membuang sampah pada tempatnya, ilmu yang diperoleh bisa diterapkan di lingkungan tempat tinggal para siswa.

Namun demikian, Topan mengakui perilaku membuang sampah sembarangan masih terjadi di wilayah Penengahan. Lokasi yang sering dijadikan tempat membuang sampah, di antaranya jembatan Banjarmasin di tepi jalan lintas Sumatra dan sejumlah selokan. Karenanya, Topan mendorong agar kesadaran siswa menjaga lingkungan tetap bersih terbawa hingga ke rumah masing-masing.

Topan mengatakan, keberadaan sampah di sejumlah titik strategis di Penengahan, bahkan dirasa mengganggu lingkungan. Salah satu lokasi tersebut adalah tepi Jalinsum Desa Kuripan.

Meski sebagian sampah dibakar untuk mengurangi volume sampah, asap mengganggu pernapasan. Kendati pembersihan dilakukan warga secara rutin, perilaku membuang sampah di tempat itu masih dilakukan, terutama pada malam hari.

Lihat juga...