hut

Puncak Musim Kemarau, Pembudidaya Ayam Alami Penurunan Produksi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Puncak musim kemarau yang terjadi pada Juni hingga Agustus memang selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para pembudidaya, khususnya jenis unggas. Pasalnya, cuaca ekstrim yang terjadi kerap berdampak pada menurunnya produksi ternak, bahkan penyebaran virus penyakit menular dapat mengakibatkan kematian masal.

Hal itu pulalah yang dirasakan sejumlah pembudidaya ayam asal Bantul. Salah seorang peternak, Johan Efendi, asal Pandak, mengaku mengalami penurunan produksi hingga 30 persen selama puncak musim kamarau ini. Hal itu terjadi karena banyak telur ayam miliknya tidak menetas akibat pengaruh cuaca / suhu udara yang kurang mendukung.

“Pada puncak musim kemarau seperti sekarang ini, persentase penetasan telur memang menurun drastis. Jika biasanya dari kapasitas mesin 80 telur bisa menetas sampai 70 ekor, sekarang paling hanya 50 ekor saja,” katanya.

Selain mempengaruhi tingkat keberhasilan penetasan telur, kondisi cuaca di puncak musim kemarau saat ini juga sangat rawan membawa virus penyakit menular. Salah satunya virus ND (Newcastle Disease) atau biasa disebut Tetelo yang sangat mematikan.

“Musim seperti ini cuaca sangat dingin. Sehingga ayam mudah terkena penyakit. Salah satunya virus ND. Dimana ayam akan mengeluarkan kotoran putih atau kuning. Biasanya ayam tiba-tiba mati mendadak dan bisa menular,” katanya.

Mengantisipasi hal itu, para peternak ayam termasuk Johan sendiri mengaku, biasa melakukan upaya pencegahan dengan memberikan vaksin secara rutin satu bulan sekali. Hal ini dilakukan agar ayam selalu dalam kondisi sehat.

“Selain diberi vaksin, kandang juga harus selalu rutin dibersihkan dan disemprot disinfektan setiap 3 hari sekali. Pemberian gizi pada pakan juga harus tercukupi sehingga ternak ayam selalu dalam kondisi fit,” katanya.

Salah satu hal yang paling mudah dilakukan para peternak setiap puncak musim kemarau adalah mengurangi jumlah ternak itu sendiri. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir resiko kematian jika terjadi serangan penyakit menular.

“Saya sendiri biasa mengurangi jumlah populasi ternak hingga hanya tinggal sekitar 50 persen saja. Selain meminimalisir resiko kematian, permintaan/kebutuhan konsumen saat musim seperti ini biasanya juga menurun,” katanya.

Lihat juga...