hut

Pupuk Kompos Kotoran Gajah Efektif Rehabilitasi Lahan Kritis

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Keprihatinan akan adanya lahan kritis di sejumlah wilayah, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih-Way Sekampung melakukan inovasi dengan memanfaatkan pupuk kompos kotoran gajah. Inovasi dilakukan pada tahap penyediaan media tanam yang sangat penting pada awal pertumbuhan tanaman.

Kepala BPDASHL Way Seputih-Way Sekampung, Idi Bantara, M.Sc menyebutkan, pupuk kompos kotoran gajah yang terdiri dari kompos daun, tanah, kotoran gajah dan cocoeat kelapa awalnya digunakan untuk Media Semai Cetak (MSC) sebagai media untuk pembibitan.

“Ide awal berangkat dari adanya kotoran gajah yang melimpah di pusat latihan gajah Way Kambas yang jumlahnya mencapai 1 ton perhari, lalu saya berpikir memanfaatkan kotoran gajah agar bermanfaat untuk lingkungan,” ungkap Idi Bantara saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (10/7/2019).

Manfaat pupuk kompos kotoran gajah disebut Idi Bantara untuk menanam tepat volume per lubang tanaman. Sebab bibit akan mengikuti bentuk pupuk kompos blok kotoran gajah yang sudah dibuat. Cara tersebut akan meringankan pekerjaan pembuatan lubang sesuai ukuran pupuk kompos blok. Uji coba penerapan selama beberapa tahun diakuinya berhasil 100 persen bahkan telah menghasilkan.

Pada uji coba pribadi, Idi Bantara mengaplikasikan pupuk kompos blok kotoran gajah untuk menanam jeruk, kelengkeng, matoa dan tanaman produktif. Hal tersebut menjadi sebuah cara merehabilitasi lahan kritis untuk konservasi lingkungan.

Saat ditugaskan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di provinsi Bangka Belitung (Babel) inovasinya terus diaplikasikan. Persoalan lingkungan bekas tambang timah menjadi persoalan yang dipecahkan melalui solusi penggunaan pupuk kompos blok kotoran gajah. Sebab bekas galian dikategorikan sebagai lahan super kritis.

“Kami aplikasikan bekerjasama dengan Pemda Babel, masyarakat, Dinas Kehutanan dan menanam jeruk, jengkol, nangka yang sukses bahkan sudah berbuah,” ungkap Idi Bantara.

Idi Bantara ,M.Sc (kedua dari kiri) memperkenalkan inovasi kompos kotoran gajah kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya (kedua dari kanan). Foto: Henk Widi

Uji coba pada eks galian timah atau dikenal lubang camui menjadi salah satu keberhasilan merehabilitasi lahan kritis. Selama dua tahun upaya tersebut dikembangkan sehingga Pemda Babel membuat himbauan agar pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan wajib memakai pupuk kompos blok kotoran gajah.

Berkoordinasi dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, pemanfaatan kotoran gajah disambut positif. Setiap pekan dilakukan proses pengambilan kotoran gajah yang sudah kering dan dikumpulkan pada satu lokasi.

Proses selanjutnya kotoran gajah akan dikeringkan dan mencampurkan dengan bahan organik lain, meliputi kompos daun, kotoran ternak sapi, tanah dengan perbandingan 1:1. Melalui proses fermentasi hingga menjadi pupuk, pengolahan kotoran gajah dibuat sedemikian rupa agar bisa dibentuk menyerupai pot tanaman.

“Pupuk kompos blok kotoran gajah menjadi solusi awal agar tanaman tumbuh dengan baik sehingga rehabilitasi lahan bisa berhasil,” cetus laki laki asal Solo,Jawa Tengah ini.

Lihat juga...