hut

Purbalingga Serius Tekan HIV/AIDS

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PURBALINGGA — Kabupaten Purbalingga menunjukan keseriusannya dalam upaya penekanan kasus HIV/AIDS. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang penanggulangan HIV/AIDS serta Peraturan Bupati (Perbup) yang mengharuskan calon pengantin melakukan rapid test terlebih dahulu.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Rapid tes yang dimaksud adalah serangkaian tes screening HIV untuk mengetahui kondisi kesehatan calon pengantin, apakah terindikasi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) atau tidak. Saat ini Purbalingga juga sedang mengusulkan rapid test untuk karyawan pabrik.

“Rapid test untuk calon pengantin ini tertuang dalam Perbup dan sudah ditandatangani. Peraturan tersebut sama sekali bukan untuk menghalangi pernikahan, tetapi sebagai upaya pencegahan dan deteksi dini. Jika ada calon pengantin terdeteksi, maka calon pasangan berhak untuk mengetahui, supaya bisa dilakukan antisipasi penularan terhadap keturunan mereka kelak,” jelas Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, Jumat (19/7/2019).

Purbalingga juga sudah memiliki Perda nomor 9 tahun 2018 tentang penanggulangan HIV/AIDS. Bupati juga mendorong Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) untuk terus berupaya menemukan ODHA dan melakukan upaya pengobatan sedini mungkin.

“KPAD harus aktif dan masif melakukan sosialisasi pencegahan dan menemukan penderita ODHA. Semakin banyak yang terdeteksi lebih dini, maka akan lebih cepat ditangani,” terang Bupati Purbalingga yang biasa disapa Tiwi ini.

Kasus HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es, sehingga semua pihak harus turun tangan untuk mengatasinya. Tak hanya KPAD, tetapi seluruh Puskesmas juga harus turun untuk melakukan deteksi dini di wilayah masing-masing.

Sekretaris KPAD Purbalingga, Heny Ruslanto mengatakan, berdasarkan catatan yang dihimpun dari tiap Puskesmas dan Rumah Sakit, jumlah ODHA di Purbalingga hingga Desember 2018 ada 336 kasus dan 45 penderita meninggal. Sedangkan untuk 2019 sampai dengan bulan Mei, sudah ada 460 kasus ODHA yang terdeteksi dan 141 penderita meninggal dunia.

“Angka tersebut masih sangat mungkin berubah, karena data pasti ODHA memang sulit diperoleh, sebab banyak penderita yang cenderung tertutup dan tidak mau mengungkap penyakit serta identitasnya,” terangnya.

Lihat juga...