hut

Purnacandra

CERPEN WAHYU INDRO SASONGKO

TLOGOWUNGU geger. Rumah Demang Suralaga hancur berantakan seperti usai disapu angin badai semalam. Bangunannya hampir rubuh. Potongan-potongan tubuh manusia berserak di halaman.
***
RAUT muka Demang Suralaga memucat ketika telinganya mendengar suara lolongan panjang memecah kesunyian. Kerbau-kerbau di kandang terdengar melenguh bersahutan.

Kuda-kuda miliknya terus meringkik meski sudah ditenangkan. Dengan nafas sedikit tersengal, seorang pengawal datang dari arah pendapa.

Ndoro (Tuan)… ” kata pengawal itu dari ambang pintu.

“Aku mendengarnya. Cepat kau panggil Jalu dan Lamin. Minta semua orang menyalakan obor. Buatlah penerangan di semua sudut dan buat api lebih besar di halaman. Cepat!” katanya setengah berteriak.

Suralaga bangkit dari tempat duduk. Ia terdengar memanggil-manggil nama seorang perempuan, tetapi tidak ada sahut jawaban. Lolongan itu terdengar kembali dari kejauhan.

Kecemasan semakin terlihat menggurat di raut wajahnya. Dengan setengah berlari, ia menuju kamar. Perempuan yang ia cari tidak ada di sana. Kakinya menuju sebuah almari di pojok ruangan, mengambil sebilah keris dari sana. Matanya menatap lekat senjata itu.

Dalam hati ia berkata, tidak mungkin ucapan orang tua itu jadi kenyataan. Kutukan yang diucapkan oleh seorang resi yang ia bunuh hampir sebulan yang lalu, ketika dirinya mengambil paksa sebuah pusaka dari sebuah pertapan.

Jeritan seorang perempuan terdengar dari bagian belakang rumahnya menghentikan lamunan Suralaga. Wajahnya semakin memucat. Keringat mengalir dari dahinya.

“Jalu! Lamin!” dengan suara bergetar ia terus memanggil nama kedua tukang pukul andalannya itu.

“Bangsat! Ke mana kedua orang itu!” gerutu Suralaga dalam hatinya. Suralaga hendak berlari keluar dari kamar, tetapi ketakutan seperti sudah memaku kedua telapak kakinya.

Sementara itu, dari luar kamarnya, ia mendengar suara pekik para pengawalnya meregang nyawa. Suara dinding-dinding kayu yang berderak, patah didobrak akibat dihantam kekuatan besar. Suara orang berlari, dan suara geram kemarahan yang tidak biasa.

Bulu tengkuk leher Suralaga berdiri. Nyali laki-laki itu seperti sirna seketika dari hatinya. Raut garang di wajah Suralaga menghilang, jauh berbeda dengan saat ketika ia membunuh pertapa itu dan memperkosa anak perempuannya.

Di luar kamarnya suara gaduh yang tadi terdengar telah berubah menjadi kesunyian. Keringat semakin membasahi tubuhnya. Ia menajamkan pendengarannya.

Dari luar kamar, Suralaga mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Ia berlari, bermaksud mengunci pintu. Tetapi baru saja tangan kirinya mengatupkan daun pintu.

Brak!

Sebuah dobrakan kuat dari luar membuatnya terjungkal. Tubuh Suralaga terpelanting ke belakang. Sosok makhluk besar yang muncul dari balik pintu itu langsung menyerangnya. Suralaga mencoba meraih keris yang jatuh di samping tubuhnya.

Namun, baru saja ia meraih gagangnya, makhluk itu meraih kaki Suralaga. Ia meronta. Kaki laki-laki itu mencoba mendepak, namun sia-sia. Makhluk itu melemparkan Suralaga ke arah dinding. Tubuhnya terbentur keras, jatuh telungkup di lantai kamar.

Mulut Suralaga mengeluarkan rintih kesakitan. Darah terlihat mengalir di sudut bibirnya. Ia mencoba bangkit. Ada keinginan untuk bisa melarikan diri secepat mungkin dari kamar itu.

Tetapi naas, ia merasakan sebuah tangan mengangkat tubuhnya dari belakang. Setelah itu, Suralaga merasakan ada taring menancap di lehernya. Dada Suralaga terkoyak, semua cahaya tiba-tiba padam.
***
WAKTU berputar melawan arah jarum jam. Semua bergerak ke belakang.

Seorang laki-laki rebah di atas tanah. Matanya terlihat berkedip. Cahaya matahari tak kuasa menembus lebat pepohonan. Tubuhnya perlahan bangkit. Bergerak merangkak ke belakang. Mulutnya terbuka.

Muntahan bercampur gumpalan darah dan potongan-potongan jantung masuk kembali ke dalam mulutnya. Ia masih merangkak. Laki-laki itu berkali-kali mengeluarkan lidahnya. Perlahan tubuhnya bangkit.

Kakinya gontai. Kedua tangan laki-laki itu menutup wajahnya. Ia mengerang.  Mulutnya memanjang. Empat taring tumbuh di dalam. Tubuh itu perlahan tertutup oleh bulu-bulu hitam yang kasar. Sepasang tangannya membesar dengan kuku-kuku runcing dan tajam.

Wujudnya berubah menjadi seekor serigala berukuran besar. Mulutnya melgeluarkan suara erang. Ia berlari mundur. Meloncat jauh ke belakang. Tubuhnya menghilang di antara semak dan lebat hutan.

Dalam sebuah ruang bercahaya temaram. Serigala itu berdiri dengan sebuah jantung berada dalam mulutnya. Tetesan darah terlihat naik dari bawah ke atas. ia membungkuk, mendekatkan mulut ke arah dada Suralaga yang tergeletak di bawah kakinya.

Kedua tangannya seperti menutup rongga dada yang terbuka. Ia mengangkat Suralaga. Mata Suralaga kembali terbuka. Mulutnya menganga. Serigala itu mencengkeram lehernya, lalu ia mendekatkan tubuh Suralaga ke mulutnya.

Serigala itu menarik kembali gigitan dari leher Suralaga. Tangan laki-laki itu meronta. Sesaat kemudian, tubuh Suralaga jatuh ke bawah. Kemudian terbang menghantam dinding kamar. Meja yang jatuh, naik terangkat.

Gelas dari tanah liat yang pecah terserak, kembali utuh. Serigala itu berjalan ke belakang. Tangan kanannya menangkap kaki Suralaga, meletakkannya perlahan ke lantai kamar.

Kaki Suralaga kembali meronta. Matanya menatap ke arah sebilah keris yang tergeletak di samping tubuhnya. Suralaga bangkit dengan keris tergenggam erat di tangan. Serigala itu mundur jauh ke belakang.

Dua daun pintu terbang kembali ke tempatnya semula. Langkah kakinya menuju halaman. Tangannya mencengkeram sebuah kepala. ia menyatukan kembali dengan potongan-potongan tubuh lainnya. Seorang laki-laki kini berdiri dihadapannya dengan raut wajah penuh ketakutan.

Serigala itu berlari menjauh darinya. Menghilang melewati sudut bangunan. Serigala itu terus berlari. Sebuah lubang dari dinding bangunan seperti menghisap tubuhnya. Seorang laki-laki dengan tubuh setengah telanjang terlihat berlari mundur, muncul dari balik pintu.

Tiang-tiang penyangga rumah yang sebelumnya patah kembali berdiri tegak. Seorang perempuan tanpa pakaian melayang mendekat dengan leher terkoyak. Serigala itu menangkap tubuhnya.

Luka-luka menutup lagi. Sepasang laki-laki dan perempuan itu kembali ke arah ranjang. Perempuan itu memejamkan mata. Kedua tangan terlihat menjambak rambut ketika laki-laki telentang di bawahnya.

Tubuhnya berkilat basah oleh keringat. Serigala berlari mundur. Tubuhnya kembali menghilang di balik sebuah lubang dinding kamar. Kepingan-kepingan kayu yang terbang berhamburan menyatu perlahan.
Serigala itu berlari semakin jauh.

Kakinya menginjak tanah basah persawahan. Ia terus berlari. Mulutnya mengeluarkan suara lolongan. Sesaat ia berhenti. Deru napasnya memburu. Lidahnya terjulur. Matanya tajam menembus kegelapan. Bulu-bulu di bagian punggungnya bergoyang.

Langkah kakinya menuju ke arah perbukitan. Menghilang di dalam kelam malam. Di atas sebuah bukit serigala itu berdiri. Sekali lagi ia melolong panjang ke arah bulan.
***
TUBUH Lamin basah oleh keringat. Napasnya belum sepenuhnya teratur ketika ia berhenti di halaman rumah juragannya. Ia sedikit menyeringai ketika merasakan perih di bagian tubuhnya.

Pagi itu, warga terlihat berkerumun di depan rumah Demang Suralaga. Wajah mereka terlihat penuh rasa heran. Beberapa di antaranya terlihat berbisik-bisik. Lamin berjalan menembus kerumunan. Lamin mengedarkan pandangan.

“Bangsat! Dari mana kau? Kita habis diserang semalam oleh serigala. Aku bertarung mati-matian dan kau menghilang,” kata Jalu kepadanya.

Tetapi Lamin seperti tidak peduli. Ia berjalan meninggalkan Jalu begitu saja. Langkah kakinya menuju ke arah kamar Demang Suralaga. Tangannya mengambil sebilah keris yang tergeletak di lantai. Lamin terdiam ketika ia merasakan ada sesuatu yang menyangkut di sela gigi taringnya. ***

Wahyu Indro Sasongko, cerpennya pernah dimuat di Solopos, Femina, Buku Antologi Cerpen Seputar Pusar, Buku Antologi Cerpen Dua Tragedi, Sejarah Maaf, dan Ziarah Hati. Menulis dua buku riset sejarah “Masjid Kagungan Dalem” dan “Masjid Kuno Kesultanan Yogyakarta (2015)”. Serta buku riset sejarah “Petilasan Raja-Raja Mataram” (2016) diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!