hut

Puskesmas Wates Bentuk Satgas Tangani HIV/AIDS

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS sejak beberapa tahun terakhir, menjadi perhatian serius segenap pemangku kebijakan di Kecamatan Wates, Kulon Progo. Puskesmas Wates pun telah membentuk tim khusus Satgas HIV, sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran virus mematikan tersebut. 

Konselor HIV/AIDS Puskesmas Wates, Retno Pujiyati, mengakui adanya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di kecamatan Wates sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, hal itu tak lepas karena potensi penyebaran virus HIV yang lebih besar, mengingat lokasi Kecamatan Wates yang berada di tengah kota, dengan Populasi Kunci (pelaku berisiko) lebih besar dibandingkan daerah lain.

Konselor HIV AIDS Puskesmas Wates, Kulon Progo, Retno Pujiyati. -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Pada 2016, jumlah warga yang terinveksi HIV/AIDS ada empat orang. Lalu pada 2017, ada enam orang dan 2018 ada sembilan orang. Jadi, memang setiap tahun ada peningkatan. Karena memang populasi kunci di Wates ini cukup banyak. Seperti para tahanan, LC, waria, LSL (Lelaki Sex dengan Lelaki) penderita TBC hingga ibu hamil,” katanya, Jumat (19/7/2019).

Satgas HIV sendiri dibuat melibatkan sejumlah pihak, mulai jejaring dari pemerintah tingkat kecamatan, KUA, Kodim, hingga Polsek dan tentunya Puskesmas. Satgas ini bekerja bersama untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Khususnya dalam hal pencegahan maupun pengendalian.

“Satgas ini rutin menggelar pertemuan maupun penyuluhan-penyuluhan, untuk memberikan edukasi pada masyarakat mengenai berbagai hal tentang HIV. Satgas ini adalah yang pertama kali di Kulon Progo,” katanya.

Selain Satgas HIV, Puskesmas Wates sejak beberapa tahun lalu juga telah memiliki pusat pelayanan kesehatan HIV, berupa klinik Teratai. Klinik ini dibuka khusus untuk menangani berbagai keluhan masyarakat penderita penyakit Infeksi Seksual Menular (ISM), termasuk HIV/AIDS.

“Di desa-desa, kita juga membentuk kelompok warga peduli AIDS. Kelompok ini berisi kader-kader kesehatan yang bertugas menindaklanjuti kalau ada kasus HIV/AIDS muncul di wilayahnya. Yakni, untuk memantau maupun memberikan edukasi-edukasi. Misalnya, soal perawatan jenazah yang terkena AIDS,” ungkapnya.

Ia pun berharap, dengan berbagai upaya ini, ke depan penyebaran virus HIV/AIDS dapat dikendalikan. Bahkan jika munggkin, dapat diminimalisir sehingga tidak ada lagi warga yang terinveksi virus mematikan yang belum ada obatnya tersebut.

Lihat juga...