hut

PUSRI Dukung Peningkatan Komoditas Bawang Merah di Solok

Editor: Koko Triarko

SOLOK – PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) Palembang mendukung program pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian bawang merah, di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat.

Direktur Komersil PUSRI, M. Romli HM., mengatakan, salah satu bentuk dukungan tersebut adalah membentuk Demontrasi Plot (Demplot) bawang merah seluas 1.000 meter persegi, dengan teknologi penggunaan pupuk NPK PUSRI 15-15-15 ditambah pupuk hayati Bioripah dan pupuk mikro Nutremag.

Ia menjelaskan, pupuk hayati Bioripah dan mikro Nutremag merupakan produk inovasi PUSRI yang dibutuhkan oleh kondisi lahan bawang merah saat ini. Bioripah adalah pupuk cair yang mengandung mikroba penambat N serta pelarut P dan K yang digunakan untuk pemupukan pada tanaman pangan hortikultura.

Sedangkan Nutremag adalah pupuk mikro yang mengandung berbagai macam unsur yang diperlukan tanaman pada saat pertumbuhan. Aplikasi keduanya memaksimalkan unsur hara makro, agar terserap oleh tanaman dengan baik.

“Sumatra Barat menjadi perhatian PUSRI dalam peningkatan komoditas, khususnya bawang merah. Aplikasi pupuk sebetulnya berbeda pada tiap kondisi lahan. Namun dengan hadirnya PUSRI, akan dapat memberikan edukasi kepada para petani mengenai pemupukan yang tepat, sehingga diperoleh hasil maksimal,” katanya, Selasa (16/7/2019).

Direktur Komersil PUSRI M.Romli HM (kiri), saat memperlihatkan hasil panen bawang merah hasil riset NPK PUSRI Bioripah dan Nutremag di Demplot Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok/ Foto: M Noli Hendra

Romli menyebutkan, PUSRI sejak 2016 telah memproduksi NPK granulasi dengan kapasitas 100.000 ton per tahun. Kapasitas tersebut akan ditambah 2 x 100.000 ton per tahun, dengan mendirikan pabrik NPK, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.

“Ada pun formula yang diproduksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Di samping demplot NPK PUSRI 15:15:15, kita juga sedang melakukan uji coba aplikasi NPK dengan formula 16-16-16 yang mengandung nitrogren nitrat dan akan memasuki masa panen pada Agustus 2019 nanti,” sebutnya.

Menurutnya, selain meningkatkan hasil produksi, pemupukan yang tepat juga akan menghemat biaya pembelian pupuk. Begitu juga yang dapat dilakukan oleh petani bawang di Lembah Gumanti, diharapkan dapat membantu mengurangi biaya belanja pupuk.

“Nanti hasil terbaik akan kita laporkan kepada Pak Camat, khususnya kepada para kelompok tani, sebagai referensi untuk meningkatkan hasil panen. Buktinya sekarang, panen yang dilakukan mampu memperlihatkan hasil yang membanggakan bagi petani,” kata Romli.

Dalam kesempatan tersebut, PUSRI juga memberikan bantuan kepada masjid dan santunan kepada anak yatim yang berada di daerah setempat. Hal ini menjadi pelengkap kepedulian PUSRI kepada masyarakat Sumatra Barat, khususnya warga Lembah Gemanti, Solok, yang sebagian besar penduduknya sebagai petani.

Produksi bawang merah Kabupaten Solok, tiap tahun mencapai puluhan ribu ton. Pada 2019, Pemkab Solok menargetkan produksi bawang merah mencapai 88.395 ton. Namun melihat tahun lalu, produksi bawang merah di Solok mencapai 102.054 ton dari luas kebun 8.769 hektare.

Daerah Kabupaten Solok, memang telah ditetapkan sebagai sentra produksi bawang merah di Sumatra Barat. Hasil produsi bawang di Solok ini, telah turut mengisi pasar komoditi bawang di Pulau Sumatra. Dengan hadirnya PUSRI, peningkatan produksi bisa terjadi, sehingga ditargetkan dapat memutus ketergantungan bawang merah yang selama ini masih banyak didatangkan dari Pulau Jawa.

Pemerintah terus mendorong petani memperluas areal tanam, khususnya di sentra-sentra penghasil bawang terbanyak, yaitu di Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Kembar, Gunung Talang, dan Lembang Jaya. Sehingga dapat dikembangkan di daerah lainnya, seperti Kecamatan Pantai Cermin, Payung Sekaki, dan Hiliran Gumanti.

Lihat juga...