hut

Ratusan Warga Konawe Utara Masih di Pengungsian

Warga menggunakan rakit penyeberangan saat melintasi banjir luapan Sungai Pohara di Desa Andadowi, Konawe, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/6/2019). Sungai Pohara meluap pada Senin (10/6/2019) sekitar pukul 11.30 WITA, akibat banjir bandang kiriman dari Sungai Konaweha dan menyebabkan akses jalan Trans Sulawesi yang menghubungan Sulawesi Tenggara-Sulawesi Tengah terhambat sementara antrean kendaran sepeda motor dan mobil mencapai 5 kilometer. -Foto: Antara

KENDARI – Sebanyak 267 kepala keluarga yang terdiri 921 warga Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, hingga Sabtu (6/7/2019) masih bertahan di pengungsian. Sementara masa tanggap darurat akibat banjir bandang yang melanda daerah tersebut beberapa waktu lalu, ditutup pada 29 Juni 2019.

BPBD Kabupaten Konawe Utara mencatat, 176 kepala keluarga pengungsi berada di 21 titik pengungsian, dengan jumlah jiwa 585 orang. Sementara 18 titik pengungsian menampung 91 kepala keluarga (336 jiwa).

Bupati Konawe Utara, Ruksamin, telah menyatakan, masa tanggap darurat bencana telah berakhir dan beralih ke status transisi kepemulihan. Masa transisi dimulai 30 Juni dan akan berlangsung hingga 27 September 2019. Selama masa transisi, koordinasi dan sinergitas lembaga terkait tetap dijaga sambil tetap melakukan penanganan bencana banjir di daerah ini.

Upaya pembersihan tanah di rumah atau tempat-tempat lain semakin intens dilaksanakan Pemkab Konawe Utara bekerja sama dengan lembaga terkait. Peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan dasar, dalam bentuk distribusi logistik kepada para pengungsi terus ditingkatkan termasuk pelayanan kesehatan kepada pengungsi.

Pembuatan tempat hunian sementara sebanyak 30 unit, yang diperuntukkan bagi warga yang berada di posko pengungsian Desa Puuwonua juga mendapatkan prioritas.

Banjir bandang melanda Konawe Utara pada 1 dan 2 Juni 2019. Banjir terjadi karena meluapnya Sungai Walasolo, Sungai Lalindu, dan Sungai Wadambali, menyusul intensitas hujan tinggi yang turun di daerah tersebut. Banjir tersebut merendam tujuh kecamatan yaitu Andowia, Asera, Oheo, Wiwirano, Landawe, Langgikima, dan Motul.

Warga yang terdampak banjir sebanyak 18.765 jiwa, kemudian rumah yang hanyut 388 unit, rusak berat 47 unit, rusak ringan 939 unit, dan terendam 1.144 unit. Sedangkan tempat ibadah yang terendam air ada lima unit, empat unit jembatan hanyut dan empat unit tidak bisa diakses.

Empat unit puskesmas terendam dan empat puskesmas pembantu serta satu gudang obat, tiga unit pasar tradisional, serta satu ruas jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah terputus.

Bupati Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Ruksamin menyatakan kerugian materi akibat bencana banjir yang melanda daerah itu mencapai lebih dari Rp674,8 miliar. Kerugian terbesar pada kerusakan infrastruktur seperti jembatan, jalan, jaringan listrik yang mencapai Rp436, 96 miliar.

Untuk perumahan dan permukiman penduduk kerugian mencapai Rp66,4 miliar, mengingat ada 370 unit rumah penduduk yang hanyut dan 1.962 unit terendam air. Sarana dan prasarana pendidikan Rp18,9 miliar lebih. Sedangkan sarana dan prasarana kesehatan Rp2,49 miliar.

Untuk kerugian pertanian mencapai Rp43 miliar, perkebunan Rp76,9 miliar dengan lahan yang terdampak padi 970,3 hektare, jagung 83,5 hektare, lainnya 11 hektare, dan tambak 727,4 miliar. Sementara, kerugian koperasi dan UMKM Rp2,1 miliar, perdagangan Rp600 juta, lingkungan hidup Rp7,8 miliar, pangan Rp306 juta, serta pemerintahan desa Rp4,67 miliar. (Ant)

Lihat juga...