hut

Sejak 1979, Peneliti Sudah Prediksikan Perubahan Iklim

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Banyak masyarakat yang merayakan bulan Juli sebagai peringatan pendaratan manusia di Bulan. Tapi banyak yang tidak tahu, bahwa bulan Juli juga merupakan peringatan atas awalnya pengetahuan manusia pada perubahan iklim, karena karbon dioksida, atau yang kemudian dikenal dengan Efek Gas Rumah Kaca. 

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, M.Sc., menuturkan, bahwa penelitian para ilmuwan terkait perubahan iklim dirangkum dalam satu publikasi yang disebut Charney Report atau Laporan Charney.

Charney Report ini adalah penilaian komprehensif pertama tentang perubahan iklim global yang dipengaruhi oleh karbon dioksida. Dipublikasikan pada Juli 1979,” kata Siswanto, di kantornya, Rabu (24/7/2019).

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, M.Sc. di Gedung B BMKG –Foto: Ranny Supusepa

Siswanto menyebutkan, bahwa pada awalnya laporan ini sama sekali tidak menarik perhatian publik. “Tetapi Charney Report ini, adalah contoh dari hasil penting dan manfaat sains yang baik. Dan, keberhasilan prediksi selama 40 tahun terakhir dan telah dengan kuat memantapkan ilmu pengetahuan tentang pemanasan global,” ujarnya.

Charney Report adalah karya  sekelompok ilmuwan iklim di Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts, untuk pertemuan pertama “Kelompok Ad Hoc tentang Karbon Dioksida dan Iklim”, empat puluh tahun yang lalu.

“Ini mengarah pada apa yang dikenal selanjutnya sebagai isu pemanasan global dan perubahan iklim,” ucap Siswanto.

Menurut Siswanto, pemanasan global dan perubahan iklim menjadi konsesus dunia untuk pertama kalinya pada 1985.

“Pada 1985,  sebuah konferensi yang dibuat oleh UNEP/ WMO/ ICSU tentang “Penilaian Peran Karbon Dioksida dan Gas Rumah Kaca Lainnya dalam Variasi Iklim dan Dampak Terkait”, menyimpulkan bahwa gas rumah kaca diprediksi akan menyebabkan pemanasan yang signifikan pada abad berikutnya.  Dan, dinyatakan juga, bahwa dampak dan tingkat pemanasan itu tidak terelakkan oleh dunia,” paparnya.

Data menunjukkan, bahwa pembangunan dan transportasi yang dimiliki oleh setiap negara di dunia, berkontribusi secara aktif pada peningkatan efek samping karbon dioksida di alam.

BMKG pun sejak 2004 sudah melakukan pengukuran gas rumah kaca di stasiun Global Atmosphere Watch (GAW), yang berlokasi di Bukit Kototabang, Sumatra Barat, pada ketinggian 864.5 meter di atas permukaan laut.

“Pengukuran konsentrasi gas rumah kaca menggunakan peralatan automatic direct method dan peralatan manual sampling method. Peralatan otomatis menggunakan Analizer Piccaro G3010 dengan metode Cavity Ring-Down Spectroscopy (CRDS). Peralatan manual menggunakan Air Kit Flask Sampling. Sampel ini akan dikirim ke laboratorium NOAA untuk dianalisis,” urai Siswanto.

Menurut data BMKG, terlihat peningkatan signifikan pada konsentrasi karbon dioksida. Mulai Januari 2014 pada angka sekitar 397 ppm hingga 405 ppm pada Mei 2019.

“Dalam rentang itu, titik terendah terjadi pada November 2014, yaitu sekitar 392 ppm dan tertinggi di September 2018, yaitu sekitar 409 ppm,” kata Siswanto.

Peningkatan konsentrasi karbon dioksida ini pun terlihat pada pantauan yang dilakukan NOAA secara global, dan pantauan di Stasiun Mauna Loa Amerika Serikat.

Lihat juga...