hut

Selamatkan Keragaman Hayati, Ayu Tani Dampingi Petani di Boru

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Keterlibatan LSM Ayu Tani sebagai mitra Burung Indonesia dalam pendampingan petani di wilayah hutan Iliwengot lewat program Kemitraan Wallacea tentu beralasan.Para petani awalnya mengelola lahan di dalam hutan lindung tersebut namun dalam perjalanan, terjadi konflik dengan pemerintah.

Direktur yayasan Ayu Tani, Thomas Uran. Foto : Ebed de Rosary

Sejak awal terlibat mendampingi petani untuk mendapatkan kembali hak kelola kebun di dalam kawasan hutan lindung, mendorong Ayu Tani terus mendampingi petani. Skema perhutanan sosial dengan konsep Hutan Kemasyarakatan (HKm) membuat petani kembali menggarap lahan di kawasan hutan lindung.

“Konsep HKm pada dasarnya bertujuan agar pengelolaan kawasan menjadi lebih baik dimana akses masyarakat bisa dikontrol agar tetap berkontribusi terhadap konservasi keragaman hayati,” sebut direktur AyuTani, Thomas Uran, Senin (29/7/2019).

Implementasi HKm yang tidak terkontrol kata Thomas, jika tidak segera diatasi akan berdampak lebih luas terhadap kawasan Ile Wengott. Tentunya luas dan intensitas kerusakan akan semakin meningkat.

Pengelolaan HKm yang tidak sesuai konsep dan prosedur juga sebutnya, akan mengancam ketersediaan air bagi masyarakat di Boru, Hokeng, dan wilayah Sikka bagian timur.

“Kawasan Ile Wengot merupakan hulu sungai yang mengalir ke Sikka. Beberapa mata air yang dimanfaatkan oleh masyarakat Boru dan Hokeng juga bersumber dari kawasan ini. Kerusakan kawasan ini akan berakibat pada berkurangnya debit air yang ada,” tegasnya.

Ayu Tani sendiri pernah memfasilitasi beberapa lokasi hutan kemasyarakatan. Di Flores Timur sendiri ada sekitar 48.480 Ha yang sudah diberi ruang oleh kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dikembangkan menjadi perhutanan sosial.

Lahan tersebut berada di areal hutan lindung dan hutan produksi. Namun yang baru memiliki IUP HKm seluas 214 Ha dan tahun 2019 sedang dilakukan verifikasi 100 Ha lagi di kawasan Iliwengot.

“Sebenarnya di dalam perjanjian HKm masyarakat sudah membuat pernyataan tidak memperjualbelikan lahan yang dikelola. Dengan begitu maka dengan konsep bertani yang selaras alam, maka petani mendapat manfaat dan kelestarian hutan pun tetap terjaga,” sebutnya.

Tiburtius Hani, Flores Programme Manager Conservation & Development yayasan Burung Indonesia mengatakan, para mitra Burung Indonesia menyasar arahan strategis dalam pengembangana programnya, yang tentunya berdasarkan relevansinya dengan kondisi di wilayah pengembangan program.

Dalam pelaksanaan program sebutnya, harus melakukan konservasi jenis atau species dengan target melindungi spesies tertentu melalui aneka kegiatan.

Juga perlindungan tapak atau habitat dimana targetnya adalah untuk kegiatan pengelolaan tapak sehingga bisa menjadi habitat yang baik bagi keragaman hayati dan menjadi sumber layanan alam.

“Harus melakukan pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat dengan target mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan tapak, perlindungan, maupun mendorong pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan,” terang Tibur.

Lihat juga...