hut

Sendratari Ramayana, Ikon TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sendratari Ramayana menjadi ikon Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kalau ditelusuri hampir semua area di TMII bernuansa tokoh-tokoh Ramayana.

Seperti gedung Museum Indonesia TMII yang menampilkan gaya arsitektur Bali, dimana keseluruhannya memperlihatkan wajah budaya Indonesia.

Pintu gerbang utama yang terdapat di sebelah selatan, berupa sebuah candi kurung yang biasa disebut Padu Raksa atau Kori Agung. Sedangkan di sebelah barat terdapat gerbang kedua yang disebut Candi Bentar.

Sendratari Ramayana lakon Subali Lena di Candi Bentar TMII, Jakarta pada Minggu (21/7/2019) malam. Foto: Sri Sugiarti

“Nah, di Candi Bentar ini kerap disajikan sendratari Ramayana. Ornamen arsitektur Museum Indonesia ada cerita Ramayana yang menjadi ikon TMII,” kata Sigit Gunardjo, Plh. Direktur Penelitian, Pengembangan dan Budaya TMII,  kepada Cendana News, Rabu (31/7/2019).

Di sekitar gedung utama Museum Indonesia terdapat bangunan pendukung dan patung-patung yang memiliki nama dan arti simbolis. Relief yang terdapat pada bagian depan gedung utama diambil dari cerita Ramayana yang berjudul Hanoman Duta.

Dihubungkan dengan cerita Ramayana, bangunan Museum Indonesia diibaratkan sebagai Gedung Muliawan. Dimana Sri Rama memberikan perintah kepada Hanoman atau pasukan kera untuk mencari Dewi Shinta yang diculik oleh Rahwana.

Adapun jembatan yang menuju pintu masuk museum diibaratkan sebagai Jembatan Situbondo, yang dibangun oleh pasukan kera untuk menghubungkan Ayodhya dengan Alengka Pura. Yakni dimana Dewi Shinta disembunyikan oleh Rahwana di Taman Argasoka.

Menurutnya, sendratari Ramayana sudah melegenda, filosofinya menginspirasi kehidupan bangsa Indonesia. “Kita harus gaungkan terus, selain visi misi TMII sebagai pelestari budaya bangsa. Filosofi cerita Ramayana sangat cocok untuk kerukunan kehidupan berbangsa dan negara,” ujarnya.

Kerukunan berbangsa tersebut, jelas dia, tercipta di TMII dengan balutan pelestarian ragam budaya bangsa, termasuk kisah legenda Ramayana.

Sigit berharap gelaran Ramayana tidak hanya diapresiasi oleh masyarakat Indonesia saja. Tapi juga oleh duta besar (dubes) negara lain dan turis mancanegara.

Sehingga ke depan dalam gelaran Ramayana akan ditampilkan dengan inovasi unik. Yakni jelas dia, menjadi paket wisata dengan mengundang dubes.

Misal mengajak para dubes dinner di Candi Bentar, sambil menyaksikan gelaran sendratari Ramayana. Jadi paket wisata sekaligus apresiasi budaya dan diplomasi budaya. Sehingga sendratari ini bisa dinikmati secara internasional.

“Ini rencana ke depan, insyaallah sendratari Ramayana bulan Oktober akan mengundang dubes. Sehingga diplomasi budayanya nggak kalah menarik,” tandas Sigit yang juga Ketua Koordinasi Asosiasi Museum Indonesia Kawasan Khusus (AMIKA) TMII.

Mengundang para dubes menyaksikan pagelaran Ramayana dan kebudayaan Indonesia lainnya, bertujuan untuk membangkitkan kembali kedigdayaan TMII di masa lalu.

“Kita harus bangkitkan kedigdayaan TMII seperti di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Ibu Tien Soeharto berpesan kita harus lestarikan budaya bangsa,” ujarnya.

Apalagi TMII sebagai rumah budaya yang menjadi kebanggaan bangsa. Maka menurutnya, sudah seharusnya ragam budaya Indonesia dipromosikan ke kancah internasional.

“Apa yang dulu pernah jadi kejayaan TMII, saya kira ini harus kita kembalikan lagi. Tapi pelan-pelan harus punya strategi dan melihat situasi kondisi,” pungkasnya.

Lihat juga...