hut

Sirkulasi Air Lancar, Kunci Keberhasilan Budidaya Udang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petambak udang vaname atau udang putih mulai mengalami dampak saat kemarau.

Wardoyo, salah satu petambak udang vamame menyebut saat kemarau petambak dihantui oleh suhu tinggi berimbas naiknya salinitas air. Sebab meski air yang digunakan merupakan air payau, tingkat penguapan tinggi akibatkan kadar air meningkat.

Akibat kondisi air yang kurang baik selama kemarau, potensi penyakit bahkan rentan menyerang. Jenis penyakit yang muncul saat kemarau diantaranya White Spot Syndrome Virus (WSSV), Invectious Myo Necrosis Virus (IMNV), Taura Syndrome Virus (TSV) dan sejumlah virus lain.

Ketiga jenis virus tersebut diakuinya akibat perubahan cuaca dan daya dukung lingkungan tambak yang kurang tepat.

Penyakit white spote syndrome virus atau bercak putih, myo tubuh udang merah serta taura dengan bercak hitam berimbas kematian massal.

Kerugian pada petambak diakuinya terjadi saat udang berusia sekitar dua bulan dari masa panen normal tiga bulan.

Masa panen dini udang vaname diakui Wardoyo, kerap menjadi pilihan agar petambak tidak alami kerugian lebih besar. Meski demikian solusi untuk mengurangi kerugian dilakukan dengan pola budidaya yang tepat.

“Petambak udang skala rumah tangga atau tradisional kerap kekurangan modal untuk budidaya, sehingga peralatan sirkulasi air lebih minim, bagi yang memiliki modal memakai semi intensif,” ungkap Wardoyo, salah satu petambak udang vaname saat ditemui Cendana News, Senin (8/7/2019).

Wardoyo menyebut kunci suksesnya budidaya udang tambak sangat dipengaruhi sejumlah faktor. Sesuai dengan anjuran dari penyuluh perikanan, sejumlah faktor penentu diantaranya daya dukung lingkungan tambak yang tepat.

Kemudian kualitas benur yang baik dari pusat pembibitan bersertifikat, manajemen air, kualitas pakan yang baik. Selain itu penanganan sirkulasi air saat musim kemarau harus dilakukan dengan baik agar pasokan oksigen mendukung perkembangan udang.

Bagi petambak tradisional di wilayah pantai timur Lamsel pasokan air berasal dari sejumlah saluran air atau dikenal paret.

Setiap paret disalurkan melalui sejumlah saluran pemasukan (inlet) dan air dari tambak dibuang melalui saluran pembuangan (outlet).

Sistem tersebut diakuinya diterapkan berdasarkan pengalaman dari sejumlah petambak. Sebab sebelumnya penyakit udang menular ke petambak lain akibat sirkulasi air yang tercemar masuk ke tambak lain.

“Saat ada lahan tambak terkena penyakit myo, white spot dan taura maka penularan berpotensi melalui air,” cetus Wardoyo.

Selain melalui sirkulasi air, keberadaan burung air kerap bisa menjadi media pembawa. Burung bangau dan camar yang kerap memangsa udang terkena virus hinggap di lahan tambak lain berpotensi menularkan virus.

Sebagian petambak kerap memasang jaring dan senar menghalau hama burung. Selain itu pola sirkulasi air dengan kincir air tenaga listrik membuat potensi penyakit bisa diminimalisir.

Budidaya udang kala kemarau diakui Wardoyo dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sebab pasokan air yang terbatas, cuaca kerap mengalami perubahan ekstrem kala siang dan malam hari.

Imbasnya udang vaname bisa mengalami kematian massal bahkan menjelang masa panen. Usai pemanenan proses pembersihan lahan bekas pakan dengan sifon akan mengurangi munculnya penyakit.

“Usai panen setelah tiga bulan kita keringkan tambak selama satu bulan, ditaburi dolomit dan pembasmi hama,” papar Wardoyo.

Wardoyo menyebut dengan memiliki sekitar 4 petak tambak ia kerap menebar masing-masing 4.000 benur.

Saat panen rata-rata dalam kondisi normal ia bisa memanen secara parsial hingga 4 kuintal per petak. Saat proses pemanenan total ia bisa mendapatkan hasil panen hingga 2 ton. Hasil panen diakuinya kerap dijual ke sejumlah pengepul di wilayah Lamsel hingga provinsi Banten.

Muhidin, salah satu petambak udang vaname membersihkan kotoran pada tambak dengan penyaring khusus – Foto: Henk Widi

Petambak lain bernama Muhidin di desa Bandar Agung mengaku, menjaga kualitas air sangat penting saat kemarau. Ia menyebut hama penyakit rentan menyerang akibat kualitas air kurang baik.

Sebagai cara penanganan ia memberikan probiotik, vitamin A dan C melalui pakan pada lahan tambak. Berkumpulnya sisa pakan pada dasar tambak bahkan rutin disedot memakai sifon.

“Saya gunakan kincir sistem apung dan bagongan dengan mesin diesel saat malam dan siang hari,” ungkap Muhidin.

Muhidin menyebut selain memasok oksigen, sirkulasi melalui kincir mengurangi gas nitrogen. Sebab gas nitrogen pasca pemberian pakan bisa mengakibatkan udang rentan mati.

Penggunaan terpal atau plastik tambak sekaligus menjadi cara mengurangi munculnya penyakit. Selain itu kepadatan tebar udang sesuai kapasitas petak tambak membuat udang bisa tumbuh dengan baik.

Imbas hama, saat musim kemarau petambak bisa mengalami penurunan produksi. Pada kondisi normal, ia menyebut hasil panen pada satu hamparan lahan bisa mencapai 3 ton.

Sementara saat terjadi panen dini akibat penyakit bisa hanya mendapatkan 2 ton. Selain hasil panen yang turun, Muhidin menyebut harga udang turun.

Udang size 80 dijual seharga Rp60.000 semula Rp80.000, size 50 seharga Rp80.000 semula Rp 100.000 per kilogram.

Sejumlah petambak diakui Muhidin sebagian masih bertahan terutama petambak semi intensif. Namun sejumlah petambak yang enggan mengambil risiko memilih mengganti budidaya ikan nila.

Budidaya ikan nila diakuinya lebih minim risiko meski usia panen selama 6 bulan dibanding udang yang bisa dipanen usia 3 bulan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!