hut

Stabilnya Angka Fertility Rate Tidak Lepas dari Pemikiran Pak Harto

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Turunnya tingkat fertility rate Indonesia sejak periode tahun 1970-an menjadi bukti nyata bagaimana sosok Presiden ke-2 Indonesia, HM Soeharto memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Karena di dunia saat ini, peningkatan jumlah manusia menjadi masalah setiap negara.

Pengamat Sejarah Kebijakan Pembangunan dan Peneliti Yayasan Kajian Citra Bangsa Noor Johan. Foto: Ranny Supusepa

Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fertility rate Indonesia pada awal tahun 2019 tercatat 2,38 per wanita usia subur dan menjadikan Indonesia pada posisi ke-5 negara penyumbang kelahiran di dunia, yaitu 13.256.

Melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1979, Presiden Soeharto mewujudkan program keluarga berencana ke dalam suatu lembaga, yang selanjutnya dikenal sebagai BKKBN.

Pengamat Sejarah Kebijakan Pembangunan dan Peneliti Yayasan Kajian Citra Bangsa Noor Johan menyebutkan bahwa Pak Harto, panggilan akrab dari Presiden kedua RI, HM Soeharto, sejak awal sudah menyadari bahwa peningkatan jumlah penduduk suatu negara akan mempengaruhi sektor kesehatan dan ekonomi suatu negara.

“Pak Harto selalu mengaitkan semua kebijakan dengan pertimbangan ekonomi,” kata Johan pada Cendana News, Jumat (12/7/2019).

Ia juga menyampaikan bahwa Pak Harto menyadari setiap kelahiran itu akan berkorelasi dengan biaya kesehatan, pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.

Perhatian Pak Harto pada populasi Indonesia sudah ditunjukkan sejak dirinya menjadi Presiden Indonesia. Bahkan, Pak Harto juga menandatangani Deklarasi PBB terkait Populasi. Deklarasi ini menyebutkan bahwa setiap negara mengatur angka populasi dan membatasi tingkat kelahiran.

Mengutip buku karya Mahpudi : 50 Inisiatif Soeharto bagi Indonesia dan Dunia, Pak Harto menyatakan bahwa Indonesia harus memperhatikan secara serius terkait pembatasan kelahiran ini dan mendorong suatu lembaga untuk mengurus masalah ini.

Pak Harto juga menyebutkan kalau dalam pemikirannya, tindakannya sejalan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila.

Program yang mengusung slogan Dua Anak Cukup, Laki-laki atau Perempuan Sama Saja ini, menurut data berhasil menurunkan fertility rate secara bertahap.

Dari data World Bank, menunjukkan fertility rate pada tahun 1970an masih berkisar diangka 5,5 hingga 6. Pada awal 1980-an, mulai menyentuh angka 4,4. Awal 2000-an menyentuh angka 2,5.

Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan secara teknis menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya pembuahan antara sel sperma dengan sel ovum. Awalnya program ini mengalami penolakan dari sebagian masyarakat Indonesia. Namun, pemerintah melakukan promosi dan iklan di media massa secara intensif dan massif, akhirnya program KB mulai bisa diterima masyarakat.

“Memulai program KB bukan hal mudah, karena bangsa yang religius ini menentang. Tapi pak Harto malah merangkul tokoh-tokoh agama untuk menganjurkan KB dengan tujuan meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga. Dijelaskan bahwa di Al Quran telah diperingatkan agar tidak mewariskan generasi yang lemah,” tutur Johan.

Selain itu, memang masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan dengan tidak terlalu banyaknya anak yang harus dibiayai oleh orang tua.

“Kesejahteraan akan sulit dicapai jika anak terlalu banyak sementara penghasilan kecil,” tegas Johan.

Bahkan pada rentang tahun 1980an hingga tahun 2000, gaya hidup dua anak ini menjadi tren di masyarakat Indonesia. Yang hasilnya dapat terlihat saat ini, tingkat pertumbuhan populasi Indonesia masih di angka rata-rata.

Lihat juga...