hut

Swasembada Kedelai Hanya Ada di Zaman Pak Harto

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Sejarah mencatat, Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai. Hal itu dicapai saat Indonesia dipimpin Presiden Soeharto.

Dengan kebijakan yang berpihak pada sektor pertanian, Pak Harto berhasil mendorong produksi kedelai. Saat itu produksi yang dicapai Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 ton per-tahun. Capaian tersebut berbanding terbalik dengan kondisi saat ini.

Saat ini,  Indonesia mengimpor kedelai hingga 2,58 juta ton di 2018 dan 2,67 ton di 2017. Peneliti Kedelai, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Yuliasti, menyatakan, dengan kebijakan pemerintah saat ini, sangat wajar jika kedelai Indonesia tidak sanggup bertahan.  “Pasti banyak yang tidak tahu, kalau dulu kita pernah swasembada kedelai. Itu pas zamannya Pak Harto, sekitar tahun 1992 hingga 1993,” kata Yuliasti, Jumat (19/7/2019).

Kebijakan Pak Harto saat itu, mendorong produksi kedelai bisa memenuhi kebutuhan Indonesia. “Bukan cuma kedelai. Sebelumnya Pak Harto juga mendapatkan penghargaan untuk swasembada beras,” tandasnya.

Yuliasti menyebut, saat ini kebijakan pemerintah tidak berpihak pada rakyat kecil. Keran impor dibuka, atas dasar alasan yang sebenarnya tidak benar. “Kedelai Indonesia itu sebenarnya bagus. Rasanya lebih gurih dan ukurannya juga besar. Ada yang bilang juga lebih harum. Hanya tidak bisa bersaing dengan harga kedelai impor. Mereka jauh lebih murah. Akhirnya petani kita merasa berat untuk menanamnya,” tandas Yuliasti.

Padahal, harga kedelai impor lebih murah, karena produk kedelai itu termasuk produk GMO. “Kalau mau dibandingkan, harusnya dengan yang selevel. Jangan yang produk GMO, yang jelas-jelas murah karena banyak negara lain yang tidak mau,” kata Yuliasti.

Jika pemerintah masih berlaku seperti saat Pak Harto memimpin, disebutnya sangat mungkin Indonesia tidak perlu mengimpor kedelai. Data menunjukkan, produksi kedelai Indonesia saat ini hanya 600 ribu ton, sangat jauh menurun dari masa kepemimpinan Pak Harto.

“Saat ini, subsidi untuk pupuk dan bibit dihilangkan, sehingga biaya yang dibutuhkan petani lebih besar. Karena biaya besar petani jadi malas menanam. Ditambah dengan pencabutan Perpres 32 Tahun 2013, akhirnya produk kedelai kita tidak mampu bersaing,” tambah Yuliasti.

Kondisi tersebut berbeda dengan era kepemimpinan Pak Harto, yang sangat memperhatikan sektor pertanian dan agrikultur. Mengutip perkataan Pak Harto dari salah satu buku karya Mahpudi, 50 Inisiatif Soeharto untuk Indonesia dan Dunia, disebutnya, pemerintah harus selalu memperhatikan pada pembangunan sektor pertanian dan agrikultur.

Dan ini bukan hanya omongan belaka. Pak Harto selalu memastikan kebijakannya diaplikasikan secara baik di masyarakat. Saat itu, presiden yang dikenal dengan sebutan Smiling General tersebut menggalakan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Hak itu untuk memastikan setiap petani meningkatkan hasil dari pertaniannya. Sebelum swasembada kedelai, Pak Harto juga berhasil melakukan swasembada beras, pada angka 25,8 juta ton per-tahun.

Keberhasilan tersebut membuahkan penghargaan dari FAO di 1986. Dalam medali itu tertulis, From Rice Importer to Self-Sufficiency dan President Soeharto of Indonesia.

Lihat juga...