Tak Jadi Soko Guru Ekonomi, Koperasi Jalan di Tempat

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Mantan Menteri Koperasi di era Presiden Soeharto, Subiakto Tjakrawerdaya, membenarkan anggapan yang menyebut koperasi di Indonesia saat ini tidak banyak mengalami kemajuan, bahkan bisa dikatakan jalan di tempat atau mati suri. 

Menurutnya, hal itu karena koperasi di Indonesia saat ini belum menjadi sebuah sistem yang menganut prinsip Arsitektur Ekonomi Rakyat. Yakni, koperasi sebagai soko guru ekonomi, sebagaimana dicita-citakan Bapak Koperasi Indonesia, Muhammad Hatta.

“Koperasi jalan di tempat itu betul. Memang ada kemajuan, tapi hanya bersifat parsial. Karena koperasi tidak menjadi sistem yang menganut prinsip Arsitektur Ekonomi Rakyat, sebagai soko guru ekonomi. Kalau ukurannya itu, maka bisa dikatakan koperasi kita jalan di tempat,” katanya,  di sela acara Rapat Kerja Pengendalian Program Desa Cerdas Mandiri Lestari, di Yogyakarta, Rabu (10/7/2019).

Melalui Yayasan yang diketuainya, yakni Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya mengaku saat ini tengah berupaya membangun sistem koperasi yang bersifat nasional. Yakni, koperasi yang menganut prinsip Arsitektur Ekonomi Rakyat, sebagai soko guru ekonomi. Koperasi semestinya memiliki pilar berupa Trading House maupun perbankan sendiri.

“Itu yang kita lakukan. Kita membangun koperasi Indonesia yang berasas kekeluargaan. Bukan koperasi ala Eropa yang lebih mengedepankan individualisme. Dalam koperasi Indonesia, keanggotaan itu wajib tidak sukarela,” katanya.

Menurut Subiakto, koperasi adalah solusi masa depan untuk mengatasi persoalan terbesar bangsa Indonesia saat ini, yakni kemandirian pangan dan energi. Melalui koperasi, masyarakat dapat bekerja membangun daerah dan mengolah sumber daya yang ada di desa masing-masing, untuk mengatasi tantangan tersebut.

“Melalui Yayasan Damandiri, kita berupaya membuat model koperasi pedasaan. Saya tidak yakin ini akan berhasil kalau tidak didukung arsitektur ekonomi rakyat. Karena persaingannya berat. Jadi ini hanya bagian kecil saja. Sekadar role model di tingkat kecil, yakni desa. Semua itu tidak cukup kalau tidak dibangun berdasarkan arsitektur ekonomi rakyat secara nasional,” paparnya.

Semestinya, lanjut Subiakto, prinsip arsitektur ekonomi rakyat dalam koperasi bisa diperankan oleh Bulog dan BRI. Bulog berupaya mewujudkan kemandirian pangan, sementata BRI sebagai alat perbankan negara dapat menjangkau masyarakat hingga lapisan terbawah, agar mampu memproduksi pangan.

“Sebenarnya itu sudah jalan di zaman Pak Harto. Kita bisa swasembada karena peran Bulog dan koperasi. Artinya, arsitektur ekonomi rakyat sudah jalan. Tapi, kenapa itu tidak dicontoh? Memang tidak masalah cari model lain, silakan, tapi mana hasilnya? Kalau tidak ada hasil kenapa tidak pakai yang lama?,” ujarnya.

Lihat juga...