Tak ‘Update’ Informasi, Sejumlah RS di NTB Turun Kelas

Editor: Koko Triarko

MATARAM – Sejumlah rumah sakit di Provinsi Nusa Tenggara Barat, diturunkan kelasnya dari rumah sakit tipe C menjadi tipe D, oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), karena terganjal masalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang.

“Ada 10 rumah sakit yang diturunkan kelasnya oleh Kemenkes, tapi setelah kami identifikasi, dari jumlah tersebut, dua di antaranya sebenarnya tidak turun kelas, karena merupakan rumah sakit khusus” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Jumat (26/7/2019).

Dijelaskan, penurunan tipe terjadi karena rumah sakit, terutama RSUD yang ada di seluruh kabupaten/kota di NTB, tidak melakukan update informasi secara online setiap ada penambahan SDM dokter, terutama dokter spesialis maupun sarana dan prasarana pendukung.

Sebagai akibat tidak adanya pembaruan informasi secara online tersebut, bisa saja yang dinilai Kemenkes sebagai bahan penilaian rumah sakit swasta maupun RSUD berdasarkan informasi lama.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi/ Foto: Turmuzi

“Padahal, situasi ketenagakerjaan di rumah sakit seringkali berubah, terutama dokter spesialis, karena dokter spesialis rata-rata dikontrak, dan tidak selalu di tempat, dan sedang berada di tempat lain,” katanya.

Berbeda halnya dengan PNS yang bisa menetap. Kalau non-PNS dikontrak. Menurutnya, hal itulah yang terjadi pada rumah sakit seperti RSUD Peraya, Kabupaten Lombok Tengah, RSUD Sumbawa, Lombok Barat dan RSUD Bima.

Sebagai upaya mengembalikan tipe rumah sakit kabupaten/kota dari tipe D kembali menjadi C, semua rumah sakit di NTB diminta segera memperbarui kembali informasi SDM maupun sarana prasarana yang dimiliki melalui sistem online.

Eka menambahkan, dinas kesehatan juga telah mengumpulkan semua rumah sakit dan telah mengirimkan surat keberatan kepada Kemenkes, dengan melengkapi bukti ketenagaan yang terlebih dahulu harus diklarifikasi dinkes. Sehingga, ada dua surat, dari RSUD dan Dinkes kabupaten/kota.

“Upaya memperbaiki, memenuhi kebutuhan SDM terutama dokter spesialis yang kurang, karena itu harus berjejaring, saling bantu antarrumah sakit,” katanya.

Lebih lanjut Eka menambahkan, sebagai dampak dari turunnya kelas berakibat terhadap pendapatan. Kalau pun rumah sakit memiliki alat canggih, tidak akan diakui kalau masih tipe D, karena ada batas kewenangan.

Jumlah RSUD NTB sampai saat ini mencapai 36 unit. Sementara jumlah keseluruhan rumah sakit di Indonesia yang mengalami penurunan tipe dari C ke tipe D sebanyak 615 unit.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI menetapkan 615 rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia turun kelas dari tipe C menjadi D, 10 di antaranya merupakan rumah sakit NTB, yaitu Rumah Sakit Umu Daerah Kabupaten Lombok Barat, RSUD Peraya, Kabupaten Lombok Tengah, RS Islam Yatofa Lombok Tengah RS. Cahaya Medika, RSUD Kabupaten Bima, RSUD Kota Bima, RSUD Kabupaten Sumbawa Barat, RSUD Kabupaten Dompu, RS. Bayangkara Polda NTB dan RS. Manambai Abdul Kadir.

Lihat juga...