Wisatawan ke Kelimutu Meningkat, Penghasilan Warga Waturaka Membaik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

ENDE – Meningkatnya kunjungan wisatawan asing ke danau Kelimutu membuat beberapa desa sekitar Taman Nasional Kelimutu (TN Kelimutu) ikut menggeliat. Hal ini pun berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat.

“Ada beberapa destinasi wisata yang telah menjadi ikon bagi wisatawan asing. Ada kampung adat Wologai dan Saga, melihat Elang Flores di Wolojita, ekowisata di Waturaka serta sawah di Detusoko,” sebut Ferdinandus Watu, pegiat wisata di Detusoko, Minggu (21/7/2019).

Nando sapaannya mengatakan, selain wisata adat dan budaya, ekowisata menjadi salah satu wisata yang paling digandrungi wisatawan mancanegara. Peluang ini yang harus ditangkap masyarakat di sekitar TN Kelimutu untuk meningkatkan pendapatan.

“Ekowisata sangat baik untuk dikembangkan di Flores. Desa Waturaka di kecamatan Kelimutu menjadi salah satu contoh dimana selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, selepas menyaksikan keindahan danau Kelimutu,” ungkapnya.

Dukungan dari pihak TN Kelimutu pun, kata Nando, sangat signifikan terhadap desa-desa penyangga kawasan wisata yang terkenal dengan ikon danau Kelimutu ini. Berbagai pelatihan peningkatan SDM pun terus dilakukan bagi masyarakat desa.

“Kita berharap agar warga sekitar bisa memanfaatkan peluang pariwisata untuk meningkatkan pendapatan. Selain mengandalkan hasil pertanian. Potensi wisata di kawasan sekitar TN Kelimutu besar dan menarik bagi wisatawan sehingga perlu dikembangkan,” ucapnya.

Ignatius Leta Odja, perintis ekowisata di desa Waturaka mengatakan, awalnya dirinya mengembangkan pertanian untuk menyuplai bahan makanan bagi berbagai hotel dan penginapan di sekitar kawasan TN Kelimutu. Perlahan usaha ini pun menuai hasil.

“Banyak anak muda terjun ke pertanian dan pendapatannya meningkat drastis. Banyak anak muda yang tidak merantau lagi ke Malaysia maupun Kalimantan karena sudah mendapatkan penghasilan dari menjual sayuran dan hasil pertanian lainnya,” ujarnya.

Sanggar musik tradisional Mutu Lo’o saat pentas di tengah sawah atas permintaan wisatawan – Foto: Ebed de Rosary

Setelah sukses dengan mengembangkan pertanian, Sius, sapaan petani teladan nasional tahun 2015 ini, mulai melirik potensi wisata lainnya. Dirinya bersama kelompok sadar wisata membentuk sanggar Mutulo’o untuk mementaskan musik dan tarian tradisional.

“Kini setiap anggota sanggar bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari pentas sebesar Rp2 juta hingga Rp3 juta sebulan. Kami juga mengembangkan obyek wisata air terjun Murukeba dan agrowisata,” ungkapnya.

Untuk menarik wisatawan menetap di desanya, Sius berinisiatif menjadikan rumah tinggalnya sebagai homestay. Usahanya kini berbuah hasil dengan adanya 17 rumah tinggal di desanya yang menjadi penginapan bagi wisatawan.

“Rata-rata setiap rumah memiliki satu atau dua kamar tidur yang disewakan seharga Rp250 ribu sehari. Wisatawan pun diajak berwisata ke sawah dan ikut bertani. Di rumah, wisatawan tinggal bersama pemilik rumah dan bergaul dengan masyarakat,” terangnya.

Semenjak bulan Mei sampai Agustus kunjungan wisatawan asing meningkat ke danau Kelimutu. Warga desa Waturaka pun ikut meningkat pendapatannya dari usaha homestay dan pertanian serta ekowisata.

“Setiap rumah  mendapatkan jatah secara bergilir sehingga semua homestay yang ada akan kebagian. Ini untuk pemerataan dan sebelum menjadi homestay pemiliknya akan mendapatkan pelatihan bagaimana melayani tamu,” sebutnya.

Homestay yang ada pun, kata Sius harus sesuai standar agar tidak mengecewakan wisatawan. Setiap rumah ada buku tamu sehingga pengunjung akan menulis kesan dan pesannya. Bisa menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.

 

Lihat juga...