24 Wartawan di Bali Ikuti Uji Kompetensi

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Sebanyak 24 wartawan dari 13 media massa di Bali, mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan oleh LSPR-Bali dan ASEAN Public Relations Network (APRN), berkolaborasi dengan Lembaga Penguji Kompetensi Wartawan (LPKW) LSPR. 

Prita Kemal Gani, Pendiri dan Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi LSPR, menjelaskan, kegiatan UKW ini bertujuan untuk meningkatkan mutu wartawan Indonesia, salah satu bentuk komitmen dukungan LSPR bersama dengan Dewan Pers dan pemerintah, dalam menciptakan kompetensi profesi wartawan yang berintegritas dan bermanfaat. Acara ini akan berlangsung selama dua hari, pada 21 – 22 Agustus 2019.

“Program ini adalah salah satu bentuk apresiasi kami kepada teman-teman wartawan yang selalu mendukung perjalanan kami mengembangkan sayap ke pulau Bali sejak 2016. Saya berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi, kinerja jurnalistik dan terutama integritas teman-teman wartawan Bali”, ujar Prita Kemal Gani, saat ditemui di kawasan Denpasar, Rabu, (21/8/2019) sore.

Rizka Septiana, dari ASEAN Public Relations Network (APRN).-Foto: Sultan Anshori.

Dalam kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada hari pertama (21/8) peserta diberikan pembekalan melalui workshop seputar jurnalistik, dengan narasumber Ahmad Djauhar, selaku Ketua Komisi Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Pers Dewan Pers.

Dilanjut dengan bimbingan teknis (bimtek) dan diakhiri persiapan bersama untuk hari kedua, salah satunya adalah pembagian kelompok. Diharapkan, materi workshop ini dapat memberikan penyegaran kepada peserta sebelum mengikuti UKW.

“Keandalan suatu berita sangat ditentukan oleh kredibilitas jurnalis. Untuk itu, UKW dapat menjadi senjata ampuh untuk melegitimasi, bahkan mendongkrak kredibilitas jurnalis,” imbuhnya.

Menurut Kemal Gani, pentingnya sertifikasi terkait dengan legalitas. Profesi lain juga sudah ada, seperti dokter dan pilot. Hal ini juga karena sejak 2014 semua wartawan wajib memiliki sertifikasi.

“Proses Uji Kompetensi Wartawan disesuaikan dengan jenjang level yang diikuti peserta, dimulai dari wartawan muda, wartawan madya dan wartawan utama. Materi uji terdiri dari kode etik jurnalis, merencanakan liputan, rapat redaksi, wawancara cegat, jejaring, konferensi pers, dan lain-lain,” tegasnya.

Sementara itu, Rizka Septiana, dari ASEAN Public Relations Network (APRN), mengatakan, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi LSPR berdiri sejak 1 Juli 1992, merupakan perguruan tinggi swasta yang menyelenggarakan program sarjana ilmu komunikasi yang terbagi atas enam konsentrasi pilihan, yaitu Public Relations, International Relations, Marketing, Mass Communication, Digital Media Communication & Advertising dan Performing Arts Communications.

Serta program pascasarjana yang terbagi menjadi empat konsentrasi, yaitu Corporate Communications, Marketing Communication, International Relations Communication dan Mass Media Management.

Saat ini, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi LSPR memiliki 20.000 lulusan serta 6.536 mahasiswa dan mahasiswi aktif.

“LSPR mendapatkan izin menyelenggarakan sertifikasi pada bidang Kehumasan dari BNSP, sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bulan September 2013. Dan, LSPR kembali memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan UKW sebagai Lembaga Penguji Kompetensi Wartawan (LPKW) dari Dewan Pers. LPKW LSPR sudah bekerja sama dengan lebih dari 10 media massa Indonesia nasional dan sudah menguji kompetensi 407 wartawan,” sebut Rizka Septiana.

Menurutnya, tujuan LSP LSPR dan LPKW LSPR adalah menguji kompetensi para praktisi Humas (PR) dan wartawan di Indonesia, agar sesuai dengan etika kinerja profesional yang berlaku. Kompetensi yang dimaksud adalah keahlian-keahlian para praktisi yang mereka gunakan dalam dunia kerja mereka.

“Uji Kompetensi ini adalah sebagai pembuktian bagi diri para praktisi, bahwa mereka memang kompeten dalam bidang mereka masing-masing, sedangkan bagi perusahaan-perusahaan yang melihatnya sebagai bentuk sah dari kemampuan para praktisi yang diakui oleh negara,” tandasnya.

Lihat juga...