hut

Abrasi, Kemenpar Siap Bangun Pemecah Ombak di Watu Dodol

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUWANGI – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI menganggarkan Rp 1,2 miliar untuk pembangunan proyek pemecah ombak atau break water di kawasan wisata Watu Dodol. Proyek break water ini untuk menanggulangi abrasi yang sering menerjang salah satu wisata bahari di Kota Gandrung tersebut.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya, dan Penataan Ruang Kabupaten Banyuwangi, Mujiono, membenarkan support anggaran dari Kementerian Pariwisata tersebut.

Menurutnya, selama ini bibir pantai Kawasan Wisata Watu Dodol acap kali tergerus abrasi hingga hampir merangsek ke badan jalan.

“Watu Dodol  merupakan aset milik Pemkab Banyuwangi dan TNI Angkatan Darat, memang sering terjadi abrasi. Jika tidak segera ditanggulangi, maka akan semakin menggerus ke arah badan jalan,” ungkapnya, sesuai rilis yang diterima Cendana News, Selasa (6/8/2019).

Oleh sebab itulah, pada tahun ini juga Kabupaten Banyuwangi mendapat anggaran dari Kementerian Pariwisata untuk membangun break water di kawasan tersebut senilai Rp1,2 miliar. “Tahun ini kita anggaran dari kementerian pariwisata. Anggarannya dari APBN pusat dimasukkan ke kasda (kas daerah),” ujar Mujiono.

Anggaran tersebut, kata Mujiono, sekaligus untuk penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan wisata bahari ujung timur Pulau Jawa itu. “Jadi anggaran ini sekaligus penataan PKL agar tertata lebih rapi. Maka kalau abrasi tidak diatasi, PKL bisa masuk ke badan jalan,” tuturnya.

Sejauh ini, pihaknya masih melakukan perencanaan dan proses tender pengadaan barang dan jasa. Ditargetkan Bulan September mendatang sudah ada pemenang tender, sehingga proyek tersebut bisa segera dikerjakan.

“Kita masih proses perencanaan dan pengadaan barang dan jasa. Bulan depan kita harapkan sudah ada pemenang. Sehingga waktu pengerjaan mencukupi hingga tutup tahun anggaran,” kata Mujiono.

Untuk teknis pemasangan break water sendiri, tambah Mujiono, pihaknya akan menggunakan beton berbentuk seperti ‘cengkih’ sehingga masih ada rongga yang bisa dilalui air laut. “Atau kita gunakan batu gunung yang kita tumpuk. Tapi bukan bronjong yang ada kawat karena pasti akan aus,” jelasnya.

Menurut Mujiono, penggunaan beton berongga atau batu gunung ini bukan tanpa alasan. Sebab, jika menggunakan beton permanen tanpa adanya rongga, maka akan mudah rusak tergerus ombak laut.

“Memang secara estetika tidak bagus. Tapi ini paling efektif mengatasi abrasi. Kalau pakai beton permanen yang tidak ada rongganya justru cepat rusak,” pungkasnya.

 

Lihat juga...