hut

Akibat Asap Karhutla, Jarak Pandang di Pekanbaru Memburuk Lagi

Ilustrasi. Kabut asap. Foto: Dokumentasi CDN

PEKANBARU – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kota Pekanbaru, Kamis (8/8/2019) pagi kembali pekat menyelimuti Ibu Kota Provinsi Riau. Dampaknya, jarak pandang di daerah tersebut kembali memburuk.

“Dari pengamatan kami, di Kota Pekanbaru akibat asap  jarak pandangnya empat kilometer pada jam 7. Pada sekitar pukul 8 menjadi tiga kilometer. Memburuk jarak pandangnya,” kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami, Kamis (8/8/2019).

Pada Rabu (7/8/2019) Kota Pekanbaru relatif kondisinya lebih cerah. Hal itu dikarenakan asap berkurang pada siang hari, dan jarak pandang mencapai sembilan kilometer. Sementara itu ada ratusan titik panas terpantau tersebar di seluruh Sumatera. Khusus di Riau pada Kamis pagi pukul 06.00 WIB jumlahnya 59 titik panas. Jumlahnya naik dibandingkan kondisi sehari sebelumnya yang hanya ada 10 titik.

Sanya mengatakan, asap menyelimuti tiga daerah di Riau. Selain di Pekanbaru, jerebu (asap) juga memenuhi udara di Kota Dumai dan Kabupaten Pelalawan. “Jarak pandang di Dumai dua kilometer, dan Pelalawan tiga kilometer,” katanya.

Dari 59 hotspot di Riau, daerah paling banyak adalah Kabupaten Indragiri Hilir yakni 14 titik panas, Siak ada 11 titik panas, Bengkalis, Indragiri Hulu dan Pelalawan masing-masing delapan titik panas, Rokan Hilir dan Kampar masing-masing empat titik panas, dan Kepulauan Meranti ada dua titik panas.

Dari jumlah tersebut ada 37 dipastikan titik api, paling banyak di Indragiri Hilir dengan sembilan titik panas. Kemudian di Siak tujuh titik panas, Pelalawan enam titik panas, Indragiri Hulu dan Bengkalis masing-masing lima titik panas, Rokan Hilir dan Kampar masing-masing dua titik panas, dan Meranti satu titik api. “Arah angin berhembus dari tenggara dan barat daya,” katanya.

Selain memperburuk jarak pandang, Sanya menyebut, kabut asap juga berpotensi menihilkan potensi hujan yang sangat dinantikan pada kemarau kali ini. Sanya mengatakan pada hari ini diprakirakan ada peluang hujan dengan intensitas sedang dan hanya hujan lokal. Namun, ia mengatakan hujan sangat sulit terjadi pada kondisi udara berasap.

Wakil Komandan Satuan Tugas Karhutla Riau, Edwar Sanger, mengatakan, upaya pemadaman terus dilakukan oleh personel gabungan. Upaya dilakukan baik di darat dan dari udara menggunakan helikopter.

Fokus pemadaman di daerah-daerah yang banyak terdapat titik api. “Hari ini tetap menuntaskan yang tersisa kemarin, baik di Pelalawan, Siak maupun di Indragiri Hilir. Kami tuntaskan sampai clear biar tak berasap lagi,” kata Edwar.

Berdasarkan data Satgas, asap di Pekanbaru juga berasal dari kebakaran lahan gambut di daerah tersebut seperti terjadi di dekat Terminal Payung Sekaki. Penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari darat. Meski begitu, kebakaran yang sudah berlangsung lama berlokasi di Kabupaten Siak dan Pelalawan. Di Kabupaten Siak kebakaran sudah berlangsung selama 19 hari di Kampung Sri Gemilang, Kecamatan Koto Gasib. Sebanyak 44 personel gabungan terus melakukan upaya pemadaman.

Sedangkan di Kabupaten Pelalawan, kebakaran lahan gambut sudah memasuki hari ke-17 di areal kebun kelapa sawit PT Wahana di Desa Penarikan, Kecamatan Langgam.

Selain itu, kebakaran lahan juga masih terjadi di kebun akasia KUD Penarikan Jaya di Langgam. Ada sedikitnya 40 personel gabungan yang terus berupaya memadamkan dari darat, terdiri dari unsur Polri, TNI, BPBD Riau, tim pemadam dari PT RAPP dan masyarakat setempat. Pemadaman juga dilakukan dari udara menggunakan helikopter yang menjatuhkan bom air. (Ant)

Lihat juga...