Angka Asi Ekslusif Indonesia Jauh di Bawah Target WHO

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Angka ASI eksklusif di Indonesia di 2018 tercatat hanya 37,3 persen. Kondisinya, belum mencapai target yang diberikan WHO, yaitu 50 persen.

Padahal ASI merupakan nutrisi terbaik pada bayi hingga usia enam bulan pertama. Untuk memperbaiki angka tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta kerjasama dari semua lembaga dan kementerian.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  DR. Dr. Aman B Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon) – Foto Ranny Supusepa

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  DR. Dr. Aman B Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon), menyebut, untuk mencapai target literasi menyusui yang baik dan ASI eksklusif dibutuhkan kerjasama lintas departemen.

“Sistem kita ini salah. Programnya banyak tapi implementasinya kurang. Dan bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan saja. BKKBN juga harus terlibat, Kemenag apa coba perannya selama ini, Kemendagri  juga harusnya menyampaikan ke masing-masing pemda tentang pentingnya ASI Eksklusif ini,” kata Dr. Aman di Kantor IDAI Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Dr. Aman mencontohkan, Departemen Pertahanan Amerika Serikat, memberikan izin kepada pilot wanita untuk mendapat cuti yang lebih lama. Hal itu diberikan, dalam upaya memberikan ASI eksklusif kepada bayi. “Jadi kita tidak bisa jalan sendiri. Sama saja kayak stunting, bukan hanya Kemenkes saja. Tapi semua pihak akan terlibat,” tegasnya.

Masalah berikutnya adalah, fokus primary health Indonesia masih berfokus pada pengobatan. “Jadi fokusnya bukan pada promotif dan preventif. Lebih pada pengobatan bukan pada pencegahan datangnya penyakit itu,” tandasnya.

Jika sistem tersebut tidak diubah, maka diperkirakan tidak akan ada kenaikan persentase ASI eksklusif. “Kalau tidak mau berubah, ya hanya Business as usual saja. Tidak akan ada kenaikan secara signifikan,” tandasnya.

Sementara pemerintah disebutnya, tidak mengalokasikan anggaran yang dikhususkan untuk mengurus tentang kegiatan menyusui. “Coba liat stunting, ada dananya. Semua pada ngurusin. Kalau ASI nggak ada. Dianggap tidak penting. Padahal masa ini adalah suatu masa terpenting dalam tumbuh kembang anak,” pungkasnya.

Lihat juga...