hut

Bahasa Indonesia Menjadi Tuan Rumah di TMII

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Bahasa Indonesia, menjadi bahasa utama dalam semua kegiatan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Diharapkan, bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di TMII. 

Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo, mengatakan, dengan jumlah pengunjung yang setahun mencapai hampir 7 juta orang. Pengunjung tersebut berasal dari berbagai daerah, oleh karenanya penggunaan bahasa Indonesia menjadi hal yang penting.

“Bahkan, setiap orang asing yang datang ke TMII, kami tetap menjelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Nanti bahasa asingnya, dijelaskan oleh transleter. Ini kami lakukan, agar bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di TMII,” kata Tanri, saat membuka seminar dan lokakarya, Penguasaan Bahasa Negara di Ruang Publik, Perkuat Pengawasan, di TMII, Selasa (6/8/2019).

Menurutnya, TMII dengan jumlah pengunjung yang begitu banyak tetap berupaya menggunakan bahasa Indonesia secara efektif.  “Jadi bahasa Indonesia memang menjadi bahasa utama dalam semua kegiatan di TMII, termasuk pemasangan bilboard, baliho dan sebagainya,” tandas Tanri.

Komitmen TMII untuk mengutamakan bahasa Indonesia dalam seluruh kegiatannya tersebut, mendapatkan penghargaan dari Badan Pengembangan Bahasa dan Pembukuan. “Alhamdulillah TMII ditetapkan menjadi kawasan percontohan pengutamaan bahasa Indonesia,” tambahnya.

Saat ini, TMII telah berusia 44 tahun dan disebut Tanri, tetap terus berupaya memperbaiki sarana prasarana yang dimiliki. Adapun luas area TMII yang mencapai 150 hektare, didalamnya terdapat 34 anjungan daerah, 20 museum dan wahana wisata.

Di 2019 ini, sudah banyak kementerian yang melaksanakan kegiatan di TMII. Untuk kegiatan tamu negara, dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri yang mengarahkan tamunya ke TMII. “Tapi hari ini, kebanggaan tersendiri, Menteri Pendidikan, Pak Muhadjir Effendy, bisa hadir di acara ini,” ujar Tanri, menyambut kedatangan Menteri Pendidikan dalam acara tersebut.

Tanri berharap, seminar dan lokakarya yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kali ini, dapat mewujudkan kembali semangat dan komitmen berbahasa Indonesia. Sebagaimana yang dikukuhkan pada Kongres Bahasa Indonesia pada 1938 di Surakarta. “Kami berharap semiloka ini dapat membawa hasil positif bagi pengembangan bahasa Indonesia, khususnya di TMII,” pungkasnya.

Lihat juga...