hut

Banyak BUMDes di Sikka Masih Belum Fokus

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dari 147 desa di 21 kecamatan di  kabupaten Sikka, NTT, baru ada 20 Badan Usaha Milik Desa (BUMDEs) yang tergolong baik. Jumlah tersebut masih tergolong minim, sehingga perlu dilakukan berbagai perbaikan dan terobosan.

“Sampai saat ini, BUMDEs yang baik hanya 20 dari 147 desa yang datanya sudah dikirim ke Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Juga datanya dikirim ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa di provinsi NTT,”kata Kornelis Soge, Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa, Rabu (21/8/2019).

Dari semua BUMDes itu, jelas Kornelis, hanya satu saja di desa Kojadoi, yang bergerak di sektor pariwisata dan menjadi desa wisata. Seharusnya, 3 desa di kawasan Teluk Maumere seperti Kojagete dan Parumaan, harus menjadi desa wisata.

Kornelis Soge,Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa di kabupaten Sikka, NTT. -Foto: Ebed de Rosary

“Intervensi bantuan dari Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi lebih kepada desa-desa yang BUMDes-nya mengelola potensi desa termasuk wisata. Jadi kalau BUMDes-nya memiliki usaha foto kopi, penyewaan tenda, maka jangan harap mendapat bantuan,” tegasnya.

Kornelis menyebutkan, desa belum fokus dalam menentukan apa yang menjadi unggulannya. Kalau fokus, maka intervensi inovasinya mulai dari hulu sampai ke hilir harus dilakukan.

“Kalau desa tersebut fokusnya ubi kayu sebagai produk unggulan, maka intervensi di APBDes mulai dari tanam ubinya sampai kepada pascapanen,” sebutnya.

Dirinya berharap, desa fokus terhadap hal ini supaya banyak hal yang bisa dibuat. Desa tidak hanya menjual bahan baku, tetapi menjual produk unggulan yang bernilai lebih, dan ada peningkatan ekonomi di desa.

“Kendala utamanya, sumber daya manusia di desa. Seturut imbauan dari presiden, maka 5 tahun ke depan dana desa lebih fokus ke peningkatan sumber daya manusia, maka harus didorong ke sana,” tegasnya.

Demikian pula dengan infrastruktur, diharapkan dapat mendukung ekonomi desa. Misalnya, kalau desa produk unggulannya ubi kayu, maka kita dorong infrastrukturnya bangun rumah produksi ubi kayu.

“Jadi, infrastrukturnya yang berkaitan dengan potensi yang ada di desa. Jangan hanya membangun jalan semen yang tidak jelas, bahkan ada yang membuat jalan ke kuburan,” tuturnya.

Maka, kata Kornelis, desa diharapkan datang ke Bursa Inovasi Desa. Mereka datang membawa potensi desa, baik di SDM, kewirausahaan maupun infrastrukturnya.

“Jadi, kita arahkan ke peningkatan SDM untuk 5 tahun ke depan. Tahun ini, pagelaran Bursa Inovasi Desa terjadi di kluster untuk pendekatan pelayanan dan partisipasi desa,” ungkapnya.

Menurut Kornelis, ada tiga kluster, yakni Alok yang menghadirkan 7 kecamatan,Talibura yang terdiri dari 6 kecamatan, dan Pantai Koka dengan 7 kecamatan. Masing-masing dilaksanakan sehari  dari tanggal 21 sampai 23 Agsutus.

“Pendekatan kluster supaya mereka lebih banyak hadir. Evaluasi tahun lalu, ada 24 desa tidak hadir dan membelanjakan menunya. Apa gunanya buat kegiatan besar, tapi orang dari desa tidak hadir?” sebutnya.

Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, mengatakan, program inovasi desa dirancang untuk mendorong dan memfasilitasi penguatan kapasitas desa. Program prioritas dilaksanakan untuk  peningkatan produktivitas pedesaan.

“Peningkatan produktivitas dilakukan dengan bertumpu kepada pengembangan ekonomi lokal dan kewirausahaan pada ranah pengembangan usaha masyarakat, “ bebernya.

Selain itu, tambah Romanus, juga yang diprakarsai desa melalui BUMDes, Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDes Bersama) serta Produk Unggulan Desa (Prudes) dan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades).

“Ini dilakukan, guna menggerakkan dan mengembangkan perekonomian desa. Juga bertumpu kepada  peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM),” sebutnya.

Kaitan antara produktivitas perdesaan dengan kualitas SDM ini, lanjut Romanus, diharapkan terjadi dalam jangka pendek maupun dampak signifikan dalam jangka panjang melalui intervensi di bidang pendidikan dan kesehatan dasar.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!