hut

Bubur Suro Warnai Malam Tahun Baru Islam di Pasuruan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Malam 1 Suro atau dikenal dengan malam tahun baru Islam 1 Muharram ikut dirayakan oleh masyarakat Lamsel.

Sebagai salah satu kuliner yang kerap dibuat pada malam 1 Suro atau tahun baru Jawa bersamaan dengan tahun baru Islam adalah bubur suro.

Suyatinah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan (Lamsel) mengaku membuat bubur suro.

Suyatinah, warga Desa Pasuruan menyiapkan bubur suro dalam takiran yang dibuat pada malam 1 Suro, Sabtu (31/8/2019) – Foto: Henk Widi

Bubur Suro disebut Suyatinah memiliki ciri khas warna merah putih dengan rasa yang unik. Bubur suro menurutnya dibuat dengan beras yang dimasak bersama rempah sehingga menghasilkan cita rasa gurih.

Sajian bubur suro menurut Suyatinah disajikan bersama dengan menu makanan takiran. Takiran merupakan nasi dilengkapi lauk pauk yang dikemas dengan bungkus daun pisang.

Bubur suro yang dibuat menurut Suyatinah berupa beras, santan kelapa, garam, daun salam, serai. Selain itu sebagai pelengkap bubur yang harus disiapkan diantaranya kare ayam, telur dadar diiris memanjang.

Selain itu tambahan bawang merah goreng, telur rebus, daun seledri cincang, perkedel dan tambahan sambal. Semua bahan tersebut ditaburkan atau dibungkus dalam wadah berbeda bersama takiran.

“Bubur suro menjadi bentuk ungkapan syukur atas tahun yang sudah lewat dengan rejeki yang berlimpah dengan harapan tahun baru bisa lebih baik terutama bagi kami para petani,” ungkap Suyatinah saat ditemui Cendana News, Sabtu (31/8/2019) malam.

Proses pembuatan bubur suro diakuinya cukup sederhana seperti pembuatan bubur pada umumnya. Beras yang sudah disiapkan direbus bersama dengan garam, daun salam, batang serai dan diaduk dengan santan.

Proses memasak bubur dilakukan hingga halus dan semua bumbu tercampur sempurna, mengental. Bubur yang sudah matang selanjutnya dituang dalam wadah terbuat dari daun pisang.

Selain bubur suro, Suyatinah mengaku membuat takiran. Takiran merupakan makanan terdiri dari nasi, berbagai lauk pauk yang digunakan untuk doa bersama. Doa bersama dilakukan di perempatan jalan desa dan sudah diumumkan dua hari sebelumnya.

Suyatinah mengaku membuat takiran dengan menu daging ayam, telur dadar, mie putih dan mie kuning. Semua takiran tersebut dibawa bersama dengan bubur suro.

Nasruloh, kepala dusun Sumbersari, Desa Pasuruan mengaku bubur suro masih dibuat warga. Meski demikian sebagian warga hanya membuat takiran masing-masing keluarga.

Nasruloh, kepala dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, berbaur bersama warga merayakan satu Suro, Sabtu (31/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sesuai dengan tradisi takiran dibuat sesuai jumlah keluarga yang ada disimbolkan dengan jumlah takiran yang dibuat. Sebagian warga bahkan membuat takiran lebih dari jumlah keluarga sebagai ungkapan syukur

“Tradisi ini masih terjaga dan bahkan sebagai malam tahun baru bagi suku Jawa masih terus dilestarikan,” ungkap Nasruloh.

Ia menyebut dengan takiran menjadi ungkapan syukur diawali dengan doa bersama. Selain didoakan oleh warga yang beragama Islam doa juga dilakukan oleh warga beragam Kristen.

Pluralisme dan kebersamaan dilakukan oleh warga dengan saling berbagi makanan. Bubur suro yang dibuat dengan takiran akan dibagikan kepada warga dan disantap bersama warga di perempatan jalan sebagai tanda kebersamaan.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com