hut

Cegah Banjir, Sejumlah Sungai di Lamsel Dinormalisasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Meski kemarau melanda sebagian wilayah Lampung Selatan (Lamsel), namun upaya mencegah banjir sudah mulai dilakukan.

Normalisasi sungai, siring alam dengan proses pelebaran, pengerukan dilakukan oleh sejumlah desa. Salah satu sungai yang dinormalisasi diantaranya sungai Pegantungan di Bakauheni dan aliran siring alam di desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.

Suyitno, kepala dusun Pegantungan menyebut, kawasan dataran rendah di dekat laut itu kerap menjadi langganan banjir. Saat musim penghujan permukiman warga tergenang air disertai lumpur dan material sampah.

Suyitno, kepala dusun Pegantungan desa Bakauheni Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Kamis (22/8/2019) – Foto: Henk Widi

Normalisasi sungai disebutnya paling tepat dilakukan saat kemarau. Sebab saat kemarau debit air kecil memudahkan alat berat eskavator bisa lebih mudah melakukan normalisasi sungai.

Normalisasi sungai Pegantungan disebutnya sudah dilakukan selama dua kali. Sebab banjir dengan volume besar terjadi pada akhir tahun 2018 dan awal 2019.

Mengantisipasi banjir yang kerap terjadi bulan November, Desember bahkan Januari, normalisasi mulai dilakukan. Bantuan normalisasi sungai disebutnya diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Lamsel.

“Selama tiga tahun terakhir langkah antisipatif kurang cepat dilakukan sehingga sering ada bencana banjir, normalisasi sungai saat kemarau setidaknya menjadi solusi agar saat penghujan tidak terjadi banjir lagi,” ungkap Suyitno saat ditemui Cendana News, Kamis (22/8/2019).

Sungai Pegantungan disebut Suyitno mengalami sedimentasi atau pendangkalan. Selama puluhan tahun sedimentasi menyebabkan penyempitan alur sungai imbas penebangan pohon.

Imbasnya tanah longsor masuk ke badan sungai mengakibatkan banjir saat musim penghujan. Normalisasi oleh pemerintah dan swadaya masyarakat disebutnya terus dilakukan.

Swadaya masyarakat disebutnya dilakukan dengan menanam pohon penahan longsor di bantaran sungai. Selain itu upaya mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan bisa meminimalisir pendangkalan.

Langkah pencegahan saat musim kemarau diakui Suyitno bisa meminimalisir kerugian saat penghujan. Sebab akibat sungai meluap puluhan rumah warga kerap terendam.

“Normalisasi secara bertahap dilakukan dalam jarak sepuluh meter lalu dilanjutkan hingga ke muara sungai agar air lebih lancar,” timpal Suyitno.

Normalisasi sungai diakui Suyitno sangat penting dilakukan meski musim penghujan belum tiba. Sebab proses pengerasan turap dan tanggul penangkis di bantaran sungai bisa lebih dipercepat.

Sebagian warga yang secara swadaya melakukan proses pembuatan turap di sekitar bantaran sungai membuat potensi longsor bisa dihindari.

Normalisasi sungai Pegantungan disebut Suyitno sekaligus memudahkan nelayan menyandarkan perahu di alur sungai. Sebab alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang mengembalikan kedalaman sungai.

Semula sungai dengan kedalaman tiga meter dan lebar sepuluh meter bisa dilalui perahu nelayan. Setelah dinormalisasi ia berharap nelayan bisa kembali memanfaatkan sungai tersebut.

Normalisasi siring alam penyebab banjir juga dilakukan di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan. Akibat sampah yang dibuang sembarangan, siring yang dangkal, banjir kerap terjadi saat musim penghujan.

Pada saat kemarau alat berat jenis eskavator didatangkan untuk melakukan normalisasi. Pengerukan bagian siring yang dangkal diakui Sumarlan warga setempat menjadi cara mencegah banjir.

“Air siring yang meluap ke jalan merupakan imbas dari volume air tidak tertampung, namun saat dinormalisasi air akan lebih lancar,” ungkap Sumarlan.

Selain proses pendalaman alur sungai, pembuatan saluran yang lebih lebar bertujuan mencegah banjir. Setelah dilakukan proses pendalaman alur siring, penambahan gorong-gorong berukuran besar menjadi antisipasi agar volume air bisa lebih lancar.

Sampah yang kerap dibuang ke siring menurut Sumarlan mulai dikurangi dengan ketegasan agar tidak membuang sampah ke saluran air.

Normalisasi aliran siring di wilayah Pasuruan yang dilakukan saat kemarau diapresiasi oleh Sudarwanto. Sebagai babinsa Koramil 0421/03 Penengahan ia menyebut banjir kerap mengakibatkan kerugian.

Sudarwanto, salah satu warga Desa Pasuruan memperlihatkan lahan persawahan yang diterjang banjir pada 2 Desember 2018 silam, Kamis (22/8/2019) – Foto: Henk Widi

Selain merusak lahan pertanian, jalan dan jembatan ikut rusak. Normalisasi siring alam dengan alat berat menjadi salah satu cara mencegah banjir.

Selain itu langkah mencegah masyarakat membuang sampah di saluran air terus dilakukan agar saat penghujan air tidak meluap. Gotong royong membersihkan saluran air dan menjaga kebersihan sungai terus digalakkan.

Sebab meski normalisasi sudah dilakukan namun aktivitas pembuangan sampah tetap dilakukan bisa berimbas banjir kala penghujan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!