hut

Cegah Polusi dan Hindari Kebakaran Lahan, Petani Manfaatkan Jerami

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi kebakaran lahan yang tinggi membuat petani di Lampung Selatan (Lamsel) dan Lampung Timur (Lamtim) menghindari pembakaran lahan.

Upaya pencegahan polusi udara akibat kebakaran lahan dilakukan petani dengan memanfaatkan jerami. Hasan, petani asal Kecamatan Pasir Sakti, Lamtim menyebut mencari jerami untuk pakan ternak hingga ke Lamsel.

Hasan, salah satu petani asal Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur mencari pakan jerami di wilayah Lampung Selatan, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

Pemanfaatan jerami untuk pakan disebutnya jadi alternatif pakan saat kemarau. Sebab sejumlah ladang penggembalaan, lokasi rumput hijau semakin berkurang.

Sejumlah pemilik lahan pertanian padi bahkan terbantu saat masa panen. Sebab pencari jerami membantu proses panen hingga merontokkan padi. Limbah jerami yang dihasilkan tidak tersisa pada lahan sawah karena dimanfaatkan sebagai pakan.

Kebutuhan jerami untuk pakan menurut Hasan menjadi pakan utama saat kemarau. Sebelumnya saat jerami melimpah, petani kerap memilih membakar untuk mempercepat proses pembersihan.

Selain dirinya saat musim panen padi pencari jerami berasal dari sejumlah kecamatan secara rombongan. Selain jerami dalam kondisi segar usai dipanen, saat kemarau jerami kering juga dimanfaatkan untuk pakan ternak.

“Pemanfaatan jerami bisa digunakan sebagai sumber pakan ternak kerbau, sapi sekaligus meminimalisir pembakaran lahan terlebih lahan sawah berada di tepi Jalan Lintas Sumatera yang kerap dilintasi kendaraan,” ungkap Hasan saat ditemui Cendana News, Rabu (14/8/2019).

Polusi yang bisa ditimbulkan oleh kebakaran lahan disebut Hasan juga berpotensi terjadi di lahan perkebunan. Sejumlah pihak diakuinya telah melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran lahan.

Saat musim kemarau imbauan larangan membakar lahan cukup beralasan. Sebab selain menimbulkan polusi, akibat pembakaran lahan bisa mengakibatkan kerugian pada lahan pertanian dan perkebunan yang masih produktif.

“Pemanfaatan jerami untuk pakan menjadi langkah bijak dalam upaya pengurangan polusi dan kebakaran lahan,” ungkap Hasan.

Meski upaya mencegah kebakaran lahan dilakukan sejumlah petani, polusi akibat asap masih kerap terjadi. Salah satu faktor penyebab diantaranya aktivitas pembuangan sampah sembarangan.

Di wilayah Lamsel lokasi pembuangan sampah liar kerap dibakar sembarangan. Lokasi tersebut diantaranya Muara Bakau, Bakauheni, Sungai Way Tuba Mati Penengahan. Selain pembakaran secara sengaja, sebagian terbakar akibat puntung rokok.

Potensi kebakaran yang tinggi saat kemarau juga terjadi di wilayah Lamtim. Mufrodi, salah satu relawan masyarakat penjaga api menyebut kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) rawan kebakaran. Sebagian sebab kebakaran hutan diantaranya karena faktor kesengajaan dan tidak sengaja.

Mufrodi (kiri) salah satu anggota masyarakat penjaga api ikut memadamkan api akibat kebakaran di wilayah Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

“Akibat puntung rokok atau warga yang berburu bisa mengakibatkan kebakaran,” ungkap Mufrodi.

Tim relawan penjaga api dibantu petugas patroli kehutanan, TNI, polisi dan masyarakat di sekitar TNWK bahkan kerap ikut memadamkan api. Selain sejumlah tangki penyemprot air juga disediakan water jet shooter (kantong penyemprot air portable).

Kegiatan penjagaan dan patroli hutan agar tidak terjadi kebakaran  di habitat gajah Sumatera, disebut Mufrodi terus dioptimalkan.

Sebagai relawan, Mufrodi bahkan kerap ikut memadamkan api di sejumlah titik akibat kebakaran lahan. Sosialisasi kepada masyarakat disebutnya gencar dilakukan agar tidak membakar lahan.

Sebab pembakaran lahan bisa merembet ke lahan lain. Pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan disebutnya menjadi solusi agar pembakaran lahan tidak dilakukan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!